Opini
Opini: Sastra sebagai Advocatus Diaboli
Sastra secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan tra yang berarti alat atau sarana.
Dengan demikian, sastra tidak hanya sebagai hiburan semata, melainkan juga sebagai media refleksi, pendidikan, dan pengembangan budaya serta moral masyarakat.
Perlu dicatat bahwa sastra bukan sekadar seni berbahasa, melainkan instrumen sosial-politik yang memiliki daya liberatif.
Artinya, sastra berperan sebagai pengganggu status quo yang menyuarakan kebenaran, membela yang tertindas, dan mengkritisi kekuasaan yang ada.
Sebagai bentuk perlawanan kultural, sastra memiliki fungsi advokatif: menyuarakan hak rakyat, menyingkap ketidakadilan, dan membuka ruang ekspresi bagi mereka yang dibungkam.
Saat suara rakyat dikerdilkan oleh kekuasaan, sastra wajib bicara lantang.
Selain itu, sastra juga hadir sebagai entitas alternatif, ketika wakil politik gagal mewakili rakyat.
Melalui pendekatan kontekstual, sastra menangkap denyut keprihatinan sosial: kemiskinan, korupsi, ketimpangan, perdagangan manusia, dan lain sebagainya.
Ia menjadi napas gelisah masyarakat yang dituangkan dalam karya. Dengan demikian, sastra adalah wadah kritik sekaligus ruang diskursus publik. Ia bisa menjadi sahabat sekaligus penantang penguasa.
Karena pada akhirnya, kata-kata memiliki kekuatan untuk mengguncang tatanan dan memicu transformasi.
Dalam karya sastra terkandung berbagai nilai penting, yaitu nilai artistik sebagai manifestasi keterampilan seni, nilai kultural yang merefleksikan budaya dan masyarakat, serta nilai etis, moral, dan agama yang menyampaikan petuah dan ajaran.
Selain itu, nilai praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari juga melekat pada karya sastra yang baik, asalkan tidak mengorbankan keindahan, kejujuran, dan kebenaran demi alasan komersial.
Apa itu Advocatus Diaboli?
Advocatus diaboli secara harfiah berarti “pembela iblis”, seringkali terdengar menyeramkan dan negatif.
Namun, secara fungsional istilah ini justru mengacu pada peran penting dalam tradisi hukum Gereja Katolik Roma, terutama dalam proses kanonisasi santo/santa atau orang kudus.
Advocatus diaboli berfungsi sebagai penyeimbang dengan mengambil posisi kontra untuk menguji secara kritis dan skeptis layak atau tidaknya seseorang mendapat gelar kesucian.
Berno Jani
Opini Pos Kupang
advocatus diaboli
POS-KUPANG. COM
Karya Sastra
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
| Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri |
|
|---|
| Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial |
|
|---|
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
| Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Berno-Jani1.jpg)