Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Sastra sebagai Advocatus Diaboli

Sastra secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan tra yang berarti alat atau sarana. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Berno Jani 

Ia menjadi medium bagi suara-suara terpinggirkan untuk berbicara, bukan hanya kepada penguasa, tetapi juga kepada sesama warga masyarakat sebagai bentuk kesadaran kolektif.

Sastra juga berperan sebagai entitas alternatif ketika elite politik kehilangan daya representatifnya. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberi arah dan gagasan tandingan.

Sastra kontekstual yang lahir dari kegelisahan sosial dan berakar pada realitas lokal adalah bentuk perwujudan konkret peran ini. 

Melalui narasi fiksi, penyair, cerpenis, dan novelis mengajak publik merefleksikan kondisi sosial-politik dan membuka kemungkinan berpikir serta bertindak di luar nalar kekuasaan.

Lebih dari sekadar pantulan realitas, sastra adalah alat intervensi budaya yang bisa memicu perubahan. Ia mengusik kenyamanan status quo dan menggelisahkan struktur lama yang menindas. 

Dalam spirit advocatus diaboli, sastra tidak membiarkan kekuasaan berjalan tanpa koreksi, tidak membiarkan masyarakat larut dalam apatisme. 

Ia menyodorkan pertanyaan-pertanyaan penting: siapa yang diuntungkan di balik kebijakan? Siapa yang dikorbankan di balik mitos pembangunan?

Dengan demikian, sastra sebagai advocatus diaboli menjalankan fungsi etik dan politik sekaligus: menantang narasi mapan, membela kaum lemah, dan menjadi pengingat bahwa kekuasaan sekecil apa pun harus selalu diawasi, sebab kekuasan itu perlu dikontrol.

Ketika politik lupa akan nurani, sastra hadir untuk merevitalisasikannya. Dan ketika rakyat kehilangan suara karena riuhnya janji-jani para pemimpin, sastra menjadi gema yang tak mudah diredam. 

Sastra sebagai advocatus diaboli berperan untuk “mengganggu” kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat serta menyuarakan ketidakadilan dan marginalisasi sosial.

Sastra yang demikian harus aktif menyuarakan suara mereka yang dibungkam. Ia menjadi ruang kritik, ruangt rakyat dapat “berbicara” ketika kekuasaan membuat mereka merasa ditindas. 

Dalam kondisi ketimpangan dan ketidakadilan, sastra mengambil peran moral dan politis sebagai penggugat, pembela, sekaligus penyambung lidah publik yang tertindas.

Dalam dunia pendidikan, sastra tidak boleh dipandang sebagai pelengkap saja, tetapi harus menjadi fondasi: agar melahirkan kreativitas, keberanian berpikir, dan solusi out of the box. 

Namun, faktanya banyak ruang kelas masih dipenjara pola pikir lama: menghafal materi, jawaban yang pasti, takut salah. 

Di sinilah peran guru menjadi revolusioner yakni pengajar sekaligus pemantik lahirnya sastra sejak dini. 

Dengan pertanyaan terbuka, proyek kreatif dan ruang berekspresi, guru bisa menjadikan kelas sebagai laboratorium ide dan imajinasi, bukan pabrik nilai.

Penutup

Sastra memiliki ruang etis dan politis yang mampu menggugat, membela, dan menyuarakan yang terbungkam. 

Dalam semangat advocatus diaboli, sastra memainkan peran penting sebagai penjaga nurani kolektif, mengoreksi kekuasaan, menyuarakan keadilan dan membangkitkan kesadaran sosial. 

Di tengah dunia yang kerap dibungkam oleh dominasi narasi tunggal, sastra hadir sebagai suara alternatif yang memantik dialog dan revolusi.

Tantangannya adalah bukan hanya bagaimana menciptakan karya sastra, tetapi bagaimana menjadikannya relevan, menggigit fakta dan keberanian untuk bersuara. 

Maka dari itu, kita semua, sastrawan, pembaca, pendidik, dan masyarakat luas memiliki tanggung jawab untuk merawat fungsi kritis sastra ini. 

Jangan biarkan sastra terkurung dalam bingkai hiburan semata atau tereduksi menjadi komoditas belaka. Karena kata-kata, jika diarahkan dengan nurani dan keberanian, mampu mengubah kebijakan penguasa yang irasional. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved