Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri

Dengan dialog, setiap budaya dapat mengenali secara dekat setiap kekayaan budaya yang dilestarikan selama ini.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS G PLEWANG
Antonius Guntramus Plewang 

Oleh:Antonius Guntramus Plewang
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Kebudayaan menjadi arena pengalaman manusiawi manakala setiap orang di wilayahnya mengalami hidup dengan cara merasakan, berpikir, berimajinasi, atau menafsirkan dunia secara terus-menerus (Sugiharto, 2019). 

Identitas kebudayaan yang integral kemudian membuat seseorang menyadari perbedaan keberadaan dirinya dengan orang yang berasal dari budaya lain (liyan).

Sense of Boundaries

Pergulatan tentang identitas kebudayaan melulu berbicara mengenai batas (sense of boundaries). 

Orang Jawa membatasi diri dalam kebudayaan Jawa, orang Kalimantan membatasi diri pada pusat budayanya, begitupun masyarakat dari berbagai budaya lainnya.

Baca juga: Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial

Identitas kebudayaan bukan saja tercipta lewat batas-batas geografis seperti antar-pulau, provinsi, atau cakupan wilayah yang lebih kecil, tetapi juga lewat unsur historis.

Setiap budaya memiliki akar sejarah yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Hal tersebut memungkinkan setiap orang yang berada terpisah secara geografis memiliki kedekatan relasi secara historis. 

Dalam batas-batas itu, masing-masing kebudayaan memegang erat pokok kebudayaannya yang menjadi kekhasan sebagai strategi pembedaan (strategy of othering). 

Namun, lebih daripada itu identitas kebudayaan hanyalah cabang-cabang dari satu akar pohon identitas nasional yakni Indonesia (Bhineka Tunggal Ika).

Berkutat dengan fenomena ini, terdapat sebuah gejala yang membuat identitas nasional kini terombang-ambing. 

Globalisasi dan modernitas merongrong eksistensi berbagai identitas kebudayaan yang ada di Indoensia. Masyarakat dari pelbagai etnis dan budaya mengalami kekaburan identitas kebangsaan. 

Tradisi kebudayaan yang dibangun selama bertahun-tahun turut terseret oleh derasnya arus budaya asing. 

Mirisnya, masyarakat Indonesia semakin menjauh dari identitas kebudayaannya sendiri dan lebih dekat dengan kebudayaan asing itu.

Gelagat seperti ini dapat kita temukan hari ini dalam kultur urban yang marak terjadi. 

Secara kultur (gaya hidup, habitus, cara berpakaian, atau selera konsumsi), orang Jakarta mungkin melihat dirinya lebih dekat dengan Singapura, dan melihat dirinya begitu jauh dengan orang Papua, Ambon, dan NTT. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved