Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Opini: Sastra sebagai Advocatus Diaboli

Sastra secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan tra yang berarti alat atau sarana. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Berno Jani 

Peran ini memastikan objektivitas dengan menguji validitas klaim dari persepktif yang berbeda.

Lebih dari sekadar peran di ranah agama, konsep ini melahirkan metode debat dan diskusi kritis yang mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran tidak pernah muncul dari satu suara saja, melainkan dari pergulatan antara keyakinan dan keraguan yang sehat. 

Ia adalah simbol bahwa agar sebuah putusan bisa adil dan bermakna, harus ada yang berani berdiri sebagai “pengacara kebenaran yang skeptis.”

Dalam ranah hukum modern, advocatus diaboli berperan seperti pembela terdakwa yang menjaga agar proses peradilan berlangsung adil dan manusiawi. 

Ia bukan hanya membela terdakwa, tetapi membela hak atas keadilan yang benar-benar jujur dan transparan.

Lawan sekaligus pelengkapnya, jaksa dan pembela bersama-sama menghidupkan semangat “fair trial,” di mana keadilan bukan kemenangan sepihak, tapi keseimbangan yang menghormati kemanusiaan. 

Kini, advocatus diaboli ada dalam diskusi sehari-hari untuk membantu menguji dan memperbaiki argumen. Meski sering dianggap mengganggu, peran ini penting untuk menemukan kelemahan dan memperkuat posisi kita dalam mengambil kebijakan. 

Tanpa keberanian menjadi “advocatus diaboli” dalam diskusi, objektivitas dan kreativitas berpikir sulit diperoleh.

Pada akhirnya, peran advocatus diaboli mengingatkan kita bahwa keadilan adalah sebuah seni halus yang membutuhkan keberanian untuk mengungkap sisi gelap dan kelemahan, demi melahirkan kebenaran yang murni.

Menggugat Kekuasaan yang Menindas

Dalam konteks sastra, advocatus diaboli bukanlah "pengacara iblis"  dalam arti harfiah, melainkan metafora bagi peran kritis yang dijalankan oleh sastra: menggugat, mengganggu, dan menantang narasi dominan yang menindas atau menyesatkan. 

Sastra menyajikan keindahan bahasa dan menjadi ruang perlawanan simbolik terhadap ketimpangan sosial. 

Melalui kekutan kata-kata, sastra mampu menampilkan apa yang tak nyaman dilihat dan menyuarakan yang tak berani dikatakan secara langsung.

Peran ini menjadikan sastra sebagai corong bagi mereka yang acapkali dibungkam.

Saat masyarakat tidak memiliki akses bicara karena represi atau ketimpangan struktur sosial, sastra hadir untuk menyuarakan keresahan dan penderitaan mereka. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved