Opini
Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial
Dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan putranya sebagai ujian keimanan
Oleh: Idharsyah T. Dasi, S.KM., M.K.M
Wasekjend PB HMI Periode 2024-2026
POS-KUPANG.COM - Hari raya Idul Adha merupakan salah satu perayaan penting dalam Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan kemanusiaan. Secara etimologi, Idul Adha berasal dari kata ‘id’ yang berarti “perayaan” atau juga bisa berarti ‘kembali’, dan ‘adha’ atau ‘udhiyah’ yang berarti “kurban” atau “hewan sembelihan.”
Karena itu, Idul Adha dapat dipahami sebagai hari raya pengorbanan, yaitu momentum keagamaan yang mengajarkan manusia tentang keikhlasan, ketakwaan, dan solidaritas sosial.
Perayaan Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan putranya sebagai ujian keimanan.
Dengan penuh kepasrahan dan ketulusan, Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan
perintah tersebut, sementara Nabi Ismail menerimanya dengan keikhlasan.
Namun, sebelum pengorbanan itu terjadi, Allah menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan (Q.S. 37:104-107).
Baca juga: Empat Masjid di Belu Terima Bantuan Sapi Kurban dari Pemda Jelang Idul Adha
Ibrahim sungguh bertaruh nyawa. Hanya lewat sebuah mimpi, sang kekasih Allah itu berani mengorbankan putra tercintanya. Sementara Ismail dengan tulus bersedia memenuhi perintah Allah lewat ayahnya.
Peristiwa kosmik ini menjadi simbol bahwa yang paling utama di hadapan Tuhan bukanlah darah atau daging kurban, melainkan nilai kepasrahan total seorang hamba pada ‘Sangkan Paran Dumadi’,
Lewat peristiwa historis ini lahirlah tradisi kurban yang terus diperingati setiap Idul Adha. Kurban tidak boleh hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan semata.
Di dalamnya terdapat pesan yang mendalam, nilai yang penuh makna. Ibadah kurban yang dirayakan umat Islam setiap tahunnya ini mencakup dimensi ritus keagamaan, spiritualitas, dan pesan sosial kemanusiaan.
Kurban sebagai Ritus Keagamaan
Sebagai ritus keagamaan, kurban merupakan bentuk ibadah yang memiliki tata cara tertentu dalam syariat Islam.
Ritual ini menjadi simbol kepatuhan manusia kepada Tuhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi kenabian yang diwariskan sejak masa Nabi Ibrahim.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada penyembelihan hewan itu sendiri, melainkan pada nilai ketakwaan yang menyertainya.
Ia merujuk pada Surat Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa darah dan daging kurban tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan manusialah yang menjadi inti ibadah tersebut.
Dengan demikian, ritual kurban harus dipahami sebagai simbol penyerahan diri dan upaya manusia mendekatkan diri kepada Tuhan.
Makna ritual ini menjadi penting di tengah kehidupan modern yang sering kali menempatkan agama sebatas formalitas sesaat, kurban menjadi ritual tahunan yang nirmakna.
Idharsyah T. Dasi
Idul Adha 1447 Hijriyah
Idul Adha
Hukum Berkurban
makna ikhlas berkurban
Meaningful
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
| Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha? |
|
|---|
| Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial |
|
|---|
| Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Idharsyah-T-Dasi.jpg)