Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha?

Ancaman terbesar kesehatan modern bukanlah sate atau gulai, melainkan ketidakmampuan manusia mengendalikan pola hidupnya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang, Jawa Tengah.

POS-KUPANG.COM - Asap sate mulai mengepul sejak pagi. Aroma gulai dan tongseng memenuhi sudut-sudut kampung. 

Di banyak rumah, Idul Adha selalu identik dengan pesta makan bersama keluarga. 

Daging kurban diolah menjadi beragam hidangan menggoda yang disantap tanpa banyak batas. 

Grup media sosial dipenuhi foto bakaran sate, tengkleng, hingga gulai kambing yang tampak menggugah selera.

Baca juga: Opini: Menulis

Namun di balik suasana hangat tersebut, ruang instalasi gawat darurat rumah sakit sering menyimpan cerita berbeda. 

Tidak sedikit pasien datang dengan keluhan nyeri dada mendadak, sesak napas, tekanan darah melonjak, bahkan serangan jantung akut beberapa hari setelah perayaan Idul Adha. 

Fenomena ini terus berulang hampir setiap tahun dan menjadi alarm serius bagi kesehatan masyarakat modern.

Beberapa waktu lalu, seorang pria berusia 44 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan kondisi nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri. 

Dua hari sebelumnya, ia menghadiri beberapa acara bakar sate bersama keluarga dan rekan kerja. 

Selama perayaan, ia mengaku mengonsumsi sate kambing, gulai, jeroan, dan minuman manis hampir tanpa kontrol. 

Ia juga memiliki riwayat hipertensi, tetapi jarang meminum obat secara rutin karena merasa tubuhnya masih kuat bekerja.

Awalnya ia mengira nyeri tersebut hanya masuk angin biasa. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah koroner yang memicu serangan jantung akut. 

Kondisi seperti ini bukan cerita langka di dunia medis. Banyak pasien baru menyadari dirinya memiliki penyakit kardiovaskular setelah tubuh mengalami kondisi kegawatdaruratan.

Masalah utamanya sebenarnya bukan terletak pada daging kurban. Daging tetap merupakan sumber protein yang bermanfaat bagi tubuh jika dikonsumsi secara wajar. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved