Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi?

Pendidikan karakter yang sejati tidak lahir dari slogan, melainkan dari keteladanan sistem yang mau mengoreksi diri.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YORIM YOSAVAT KAUSE
Yorim Yosavat Kause 

Membaca Amsal 22:6

Oleh: Yorim Yosavat Kause
Pendeta GMIT di Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - “Generasi muda tidak hanya belajar dari kata-kata kita, tetapi dari cara kita bertindak ketika kebenaran dipertaruhkan. Di ruang-ruang publik dan di tengah polemik yang disaksikan anak-anak kita, sesungguhnya sedang ada kurikulum tersembunyi tentang apa artinya menjadi manusia Indonesia yang berintegritas.”

Dari Nusa Tenggara Timur, peristiwa di Pontianak ini mungkin tampak jauh secara geografis. 

Namun dalam kehidupan berbangsa, jarak wilayah tidak pernah membuat satu persoalan publik kehilangan maknanya. 

Justru karena itulah polemik yang menimpa Josepha Alexandra layak dibaca lebih dalam: sebab ketika seorang pelajar berani menyuarakan keberatan atas sesuatu yang diyakininya tidak tepat dalam sebuah ajang kebangsaan, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil lomba, melainkan juga kualitas pendidikan publik yang sedang diwariskan kepada generasi muda.

Baca juga: Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial

Sebuah lomba yang membawa nama 4 Pilar MPR RI semestinya menjadi ruang pendidikan kebangsaan yang sehat. 

Di ruang seperti itu, anak-anak muda tidak hanya diuji kemampuan menjawab soal, tetapi juga sedang diajar bahwa kehidupan bernegara harus ditopang oleh kejujuran, ketertiban prosedur, penghormatan terhadap kebenaran, dan kesediaan menerima koreksi. 

Karena itu, ketika polemik muncul lalu perhatian publik bergeser pada pemberian kompensasi personal, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya siapa yang diuntungkan, melainkan pelajaran apa yang sedang diberikan kepada orang muda melalui cara lembaga bertindak?

Amsal 22:6 dan Arah Pendidikan

Amsal 22:6 berbunyi, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” 

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang pendidikan di rumah atau di gereja, tetapi juga dapat dibaca sebagai prinsip moral yang lebih luas: setiap otoritas yang membentuk generasi muda ikut menentukan jalan hidup yang sedang diajarkan kepada mereka. 

Dalam terang ayat ini, persoalan Josepha tidak semata-mata menyentuh soal lomba, juri, atau hadiah. 

Persoalan utamanya adalah jalan macam apa yang sedang diperlihatkan kepada anak muda Indonesia?

Apakah mereka sedang dididik untuk percaya bahwa kebenaran harus diuji dengan jujur, atau sedang dibiasakan bahwa kegaduhan publik akhirnya dapat diredakan dengan kompensasi yang tampak mulia tetapi tidak menyentuh akar masalah?

Ketika Lembaga Ikut Mendidik

Orang muda belajar bukan hanya dari buku, ruang kelas, dan ceramah moral. Mereka juga belajar dari cara institusi bertindak pada saat menghadapi kesalahan, kritik, dan tuntutan publik. 

Di sinilah lembaga pendidikan dan lembaga negara sesungguhnya sedang menjadi guru, baik guru yang membentuk integritas maupun guru yang tanpa sadar menormalisasi kekeliruan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved