Cerpen
Cerpen: Luka yang Bersuara
"Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh," tulis Ratih, "ia hanya berubah bentuk, menjadi kebijaksanaan yang pahit."
"Permisi," Arjuna menghampiri, "Anda Ratih Kusuma?"
Perempuan itu mendongak. Matanya letih tapi hangat. "Ya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya membaca buku Anda. Sangat... menyentuh."
Ratih tersenyum tipis. "Kadang luka perlu disuarakan agar tidak membusuk di dalam dada."
Mereka berbincang hingga toko tutup. Arjuna bercerita tentang pengkhianatannya, Ratih mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Tanpa mereka sadari, ada kelegaan yang aneh ketika berbagi luka dengan seseorang yang memahami.
"Apakah Anda percaya pada cinta kedua?" tanya Arjuna ketika mereka berjalan keluar toko, angin malam Yogya menerpa wajah mereka.
"Saya percaya pada penyembuhan," jawab Ratih. "Dan kadang, penyembuhan datang dalam bentuk yang tidak pernah kita duga."
Pertemuan itu menjadi awal rutinitas baru. Setiap sore, mereka bertemu di toko buku Mbah Karto.
Arjuna menceritakan hari-harinya sebagai jurnalis di sebuah koran lokal, sementara Ratih berbagi proses kreatifnya sebagai penulis.
Perlahan, mereka menemukan bahwa kesamaan luka mereka menciptakan bahasa tersendiri.
"Kita seperti dua buah vas yang retak," kata Ratih suatu sore, "tapi retakannya saling melengkapi sehingga menjadi utuh kembali."
Enam bulan kemudian, ketika hujan senja kembali membasahi Malioboro, Arjuna dan Ratih berjalan berdampingan menuju Taman Sari.
Di sana, di antara reruntuhan istana yang pernah megah, Arjuna menggenggam tangan Ratih.
"Ratih," katanya pelan, "saya mencintaimu. Bukan karena ingin menyembuhkan luka kita, tapi karena saya ingin berbagi sisa hidup dengan seseorang yang memahami."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-cerpen-Pos-Kupang2.jpg)