Opini
Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT
Melalui ajaran tentang "Ekologi Integral", Laudato Si’ menegaskan bahwa segala sesuatu di atas bumi ini saling terhubung.
Oleh: Agustinus Bili Mude
Mahasiswa Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Abad keenam Sebelum Masehi, filsuf Herakleitos menghentak dunia lewat pemikiran kosmologinya yang dinamis.
Baginya, jagat raya ini diatur oleh Logos — sebuah hukum rasional yang memastikan keseimbangan semesta.
Meskipun alam semesta diisi oleh elemen yang saling bertentangan, seperti basah-kering atau hujan-kemarau, semuanya tetap berada dalam satu keharmonisan yang tegang.
Harmoni tidak lahir dari keheningan yang statis. Sebaliknya, ia lahir dari kedinamisan elemen yang saling menghormati batas ukurannya. Jika manusia merusak ukuran tersebut, keseimbangan kosmos akan retak.
Baca juga: Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides
Berlompat ke abad ke-21, intuisi kosmis filsuf Efesus ini menemukan jangkar teologisnya dalam dokumen ekologis paling monumental zaman ini: Ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus.
Melalui ajaran tentang "Ekologi Integral", Laudato Si’ menegaskan bahwa segala sesuatu di atas bumi ini saling terhubung.
Kerusakan pada lingkungan hidup tidak bisa dipisahkan dari krisis sosial dan degradasi kemanusiaan.
Ketika kita menarik benang merah antara Logos Herakleitos dan Laudato Si’ untuk membaca realitas Nusa Tenggara Timur (NTT) hari ini, kita dihadapkan pada tamparan keras.
Bumi Flobamora saat ini sedang mengalami disrupsi ekologis yang akut.
Kita tidak hanya sedang menghadapi tantangan iklim musiman, melainkan sebuah krisis struktural yang mendalam.
"Rumah kita bersama" sedang merintih akibat keserakahan antropodesentris, yaitu cara pandang yang berpusat hanya pada keuntungan manusia semata.
Potret paling pilu dari retaknya keadilan kosmos ini dapat kita saksikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Ketika keseimbangan hidrologi dirusak oleh deforestasi, alam meresponsnya dengan kelangkaan air bersih yang ekstrem.
Dampaknya tidak berhenti pada tanah yang gersang, melainkan menukik tajam pada tragedi kemanusiaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-Bili-Mude.jpg)