Opini
Opini: Akhir Kisah sang Penyair
Usman lahir di Bambor, Manggarai Barat, pada 15 Februari 1957. Pada waktu kuliah, ia dipercaya sebagai wartawan beberapa koran...
Puisi kami juga sama-sama dimuat dalam antologi puisi Temu I Sastrawan NTT, Senja di Kota Kupang (Kantor Bahasa NTT, 2013). Tiga puisi Om Usman yang dimuat di antologi tersebut masing-masing berjudul “tidak pernah berhenti di titik nol”, “Bunga Sabana”, dan “Di Batas Timor Leste”.
Sebelum berita kematiannya, kabar terakhir tentang Om Usman saya terima dari Armando Soriano, perupa dan kepala sekolah salah satu SMP Montessori di Kota Kupang.
Pada 27 Februari 2024, Armando mengirim foto dirinya bersama beberapa muridnya sedang berbincang dengan Om Usman di depan sekolah mereka di Kelurahan Kelapa Lima.
Foto itu disertai pesan, “Ketemu Pak Usman D. Ganggang pas jalan pagi. Rupanya dia suka tanam2 di kebun2 kosong di sekitaran sekolah. Penulis puisi beliau ini, ya?” Saya mengiakan pertanyaan tersebut.
Kisah tersebut sempat saya bagikan ke Dion D.B. Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang, saat diskusi 13 tahun Jurnal Sastra Santarang di SMPK St. Yoseph Naikoten, 24 Mei 2025. Om Dion, demikian kami menyapanya di Dusun Flobamora, memberi keterangan tambahan bahwa mungkin Om Usman memiliki rumah di sekitar situ.
“Cinta” dan “sepi”, dua nomina dalam baris “Ketika Cinta Terbantai Sepi” yang jadi judul buku puisi Om Usman, menggemakan kembali situasi kisah Orfeus dan Eurydice.
Dalam kisah Orfeus dan Eurydice, kesepian yang mengancam identik dengan dunia kematian, sehingga para penghuninya kemudian terpana mendengarkan lirik-lirik Orfeus yang diiringi petikan liranya.
Cinta dinyatakan Orfeus dalam puisi lirik, untuk menarik sang kekasih dari sepi kematian yang membelenggunya.
Eurydice yang kemudian lenyap tertelan kegelapan yang mencekam membangkitkan kembali kesedihan mendalam dalam diri Orfeus, kesedihan yang lebih mencekam dari kehilangan pertama.
Di akhir kisah, sepi yang menguasai sepanjang aliran Sungai Hebrus diisi dengan ratap penyesalan dan iringan lira Orfeus, sebagai puisi lirik terakhirnya, tentang cintanya yang dua kali dirampas kematian.
Suasana Orfeus dan Eurydice jugalah yang digemakan oleh salah satu puisi Usman D. Ganggang dalam antologi Senja di Kota Kupang.
Tidak pernah berhenti di titik nol
perjalanan ini, tak pernah berhenti meski akhirnya tiba
tapi hanya sebentar, dibilang sudah memintal bahagia
ternyata terpaan angin selalu bercanda
pada pucuk-pucuk cemara
sekedar jeda
di atas duka
lara
perjalanan ini
bagai awan yang sedang terbang
yang putih terus disambut mentari
yang hitam pasti jatuh ke bumi
kemudian hilang
perjalanan ini, akhirnya
tak pernah berhenti pada suka
karena angin pun membawa hujan
melewati bumi yang tambun
| Opini: Opini WTP dan Ilusi Akuntabilitas Publik |
|
|---|
| Opini - Menyelisik Kelulusan SMA Terhadap Kualitas Pendidikan |
|
|---|
| Opini - FOMO dalam Dunia Subjektif: Pelajaran dari Thomas Nagel |
|
|---|
| Opini: Menyelami Misteri Rosario dalam Terang Rosarium Virginis Mariae |
|
|---|
| Opini: Self-Diagnosis dari Media Sosial- Ketika TikTok Menjadi "Dokter" Baru Generasi Muda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Usman-D-Ganggang-dan-muridnya.jpg)