Minggu, 10 Mei 2026

Opini

Opini: Akhir Kisah sang Penyair

Usman lahir di Bambor, Manggarai Barat, pada 15 Februari 1957. Pada waktu kuliah, ia dipercaya sebagai wartawan beberapa koran...

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-ARMANDO SORIANO
BERSAMA PARA MURIDNYA - Usman D. Ganggang (kanan) sedang mengobrol dengan Armando Soriano dan murid-muridnya. 

Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora - Kupang, NTT

POS-KUPANG.COM - Dua penyair besar Romawi, Vergilius dan Ovidius, mencatat kisah Orfeus dalam karya-karya mereka. Vergilius mencatatnya dalam Bucolica. 

Ovidius mencatat kisah Orfeus dalam Metamorphoses. Meski Metamorphoses berisi kisah-kisah ringkas tentang perubahan, sebagian besar buku 10 puisi tersebut dibentuk dari larik-larik puisi Orfeus setelah kehilangan Eurydike yang kedua kali, menjadikan bagian tersebut sebagai puisi berbingkai, puisi di dalam puisi.

Saya pernah merespons kisah Orfeus dan Eurydice yang ditulis Vergilius melalui puisi berjudul “Variasi Ketiga atas Cento Narcissus” di buku puisi terakhir saya, Homo Narrans (2022), termasuk menerjemahkan baris-baris ratapan Eurydice sebelum kembali ke pelukan kegelapan kematian untuk kedua kalinya.

Dalam versi Vergilius, kisah Orfeus dan Eurydice kita kenal melalui pengisahan nubuat Proteus kepada Aristaeus yang kehilangan kawanan lebahnya. 

Kawanan lebah, kita tahu, bagus dalam dunia pertanian sebagai salah satu pembantu penyerbukan alami. Jika dalam Metamorphoses, Orfeus-lah yang menjadi narator bagi kisah-kisah berbingkai, dalam Georgica, Orfeus-lah salah satu tokoh dari kisah berbingkai. 

Orfeus turun ke dunia bawah, dunia orang mati, untuk mencari Eurydice yang mati dipagut ular setelah berusaha lolos dari kejaran Aristaeus. Di dunia bawah, Orfeus dan lira emasnya memukau semua yang mendengarkan ratapannya. 

Proserpina dan para Eumenides, yang telah luluh-lantak hatinya oleh nyanyian Orfeus, mengizinkan sang penyair membawa kembali Eurydice, dengan syarat, Orfeus berjalan di depan, dan ia tidak boleh menoleh ke belakang sebelum mencapai dunia kehidupan. 

Di ambang cahaya, Orfeus berhenti, lupa akan pesan, dan menoleh ke belakang. Eurydice pun kembali ke pelukan kegelapan. Kehilangan kedua membuatnya lebih sedih dari yang pertama. 

Ia menolak semua cinta, tidak ada lagu-lagu pernikahan yang mampu menggerakkan hatinya. Penolakan tersebut kemudian berbuah kematian baginya. 

Para wanita Ciconia, yang ditolaknya, mencabik-cabik tubuhnya. Kepala Orfeus, yang dihanyutkan Sungai Hebrus, meneriakkan nama Eurydice terus-menerus sebagai tanda penyesalannya. Itulah puisi terakhirnya, yang digemakan tepian sungai sepanjang aliran.

Dalam versi Ovidius, kepala dan lira Orfeus, yang dihanyutkan Sungai Hebrus, masih menggemakan musik dan nyanyian, sampai ke Pantai Lesbos. 

Orfeus yang mati kemudian kembali bersama Eurydice di dunia bawah. Mereka bersama, berjalan berdampingan maupun beriringan, tetapi tetap dengan ketentuan: jika Eurydice berada di belakang, Orfeus tidak boleh menoleh. 

Bacchus menghukum para wanita pembunuh Orfeus dengan mengubah mereka menjadi pohon-pohon ek. Sebagai penyair, Ovidius banyak menulis puisi cinta. 

Karena itu, tidaklah mengherankan, dalam tafsirannya, tolehan Orfeus untuk memastikan keberadaan Eurydice di belakang tidak hanya disebabkan karena Orfeus lupa (seperti yang dikisahkan Vergilius). 

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved