Minggu, 10 Mei 2026

Opini

Opini: Akhir Kisah sang Penyair

Usman lahir di Bambor, Manggarai Barat, pada 15 Februari 1957. Pada waktu kuliah, ia dipercaya sebagai wartawan beberapa koran...

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-ARMANDO SORIANO
BERSAMA PARA MURIDNYA - Usman D. Ganggang (kanan) sedang mengobrol dengan Armando Soriano dan murid-muridnya. 

Tolehan Orfeus, menurut Ovidius, juga menandakan cinta. Dalam versi Latin, Ovidius bahkan membariskan urutan kata-katanya seperti ini: “videndi flexit amans oculos”. 

Sepasang “videndi” (melihat) dan “oculos” (mata) yang menyatakan kerja melihat mengapit “flexit” (menoleh) dan “amans” (mencintai). 

Ovidius memang membingkai kisah keduanya dalam latar suasana sepasang pencinta: kematian pertama Eurydice terjadi pada hari pernikahannya, juga karena dipagut ular, seperti disampaikan Vergilius.

Kisah Orfeus yang gagal membawa pulang istrinya, Eurydice, dari dunia kematian, menampilkan kepada kita batasan yang bahkan mesti dihadapi oleh karya seni yang paling indah dan sempurna sekalipun. 

Namun, dalam kisah Orfeus, ada juga bagian yang menggambarkan bahwa karya seni bisa tetap bergema jauh setelah sang seniman meninggal. 

Gema teriakan nama Eurydice dalam versi Vergilius, maupun gema suara dan musik lira Orfeus dalam versi Ovidius, menggambarkan potensi ketahanan karya seni untuk melampaui usia hidup sang seniman. 

Gema tersebut bertahan sebagai nyanyian dan ratapan, dan orang-orang di sepanjang aliran sungai dapat terus mendengarkan suaranya, meski sang penyair telah pergi ke dunia orang mati. 

Dalam konteks hari ini, kita bisa menganggap situasi tersebut serupa dengan pengenalan kita terhadap karya seseorang yang melampaui usia hidup maupun lokasi tinggal sang pencipta karya. 

Teknologi hari ini memungkinkan kita mengakses dan membaca puisi-puisi tua para penyair dari ribuan tahun lalu, termasuk menafsirkannya ulang untuk kepentingan kita hari ini, sebagaimana telah saya lakukan pada kisah Orfeus dan Eurydice yang ditulis Vergilius dan Ovidius. 

Kita bahkan bisa lebih dahulu mengenal karya-karya si seniman sebelum, bahkan tanpa perlu, bertemu dengan si seniman.

Saya menyampaikan ulang kisah Orfeus dan Eurydice di atas, dan mengaitkannya dengan hubungan antara seniman dan karya seninya, karena mengingat penyair Usman D. Ganggang, yang berpulang pada 3 Juni 2025 pagi di RSUD Komodo di Merombok, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Usman lahir di Bambor, Manggarai Barat, pada 15 Februari 1957. Pada waktu kuliah, ia dipercaya sebagai wartawan beberapa koran, juga terlibat dalam beberapa organisasi, dalam kampus maupun luar kampus. 

Ia pernah menjadi guru di Labuan Bajo, Ruteng, Kupang, Atambua, dan Bima. Di Bima, ia bergabung dengan Komunitas Kestas yang bergerak di bidang sastra. Ia juga tercatat mengampu rubrik sastra di sejumlah harian, seperti Suara Mandiri, Cendana Pos, Komodo Pos, dan Amanat. 

Kami pertama kali bertemu di Temu I Sastrawan NTT yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi NTT pada Agustus 2013 di Taman Budaya Gerson Poyk, Oepoi, Kupang, NTT. 

Namun, jauh sebelumnya, saya telah membaca puisi-puisinya yang terbit di rubrik “Imajinasi” Pos Kupang. Pada pertemuan itu, Om Usman membawa serta buku puisinya, Ketika Cinta Terbantai Sepi, yang terbit dua tahun sebelumnya. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved