Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Banalitas Media Sosial dan Media Kontrol Sosial

Penemuan-penemuan terbaru ini memaksa manusia untuk mengubah sistem komunikasi sosial dan pencarian informasi. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
Freepik
ILUSTRASI 

Banyak orang mengejar keuntungan dari fitur ini dengan membuat konten-konten ‘receh’ yang kadang tidak berbobot agar tidak menurun viewers.

Akan tetapi di balik semua ini lahir mental banal di media sosial. Di mana setiap hal yang tidak layak dipublikasikan pun itu dipublikasikan dan dipertontonkan di semua kalangan usia.

Maka perlu upaya untuk membendung mentalitas banal media sosial. Banalitas media sosial merupakan satu sikap di mana orang merasa biasa saja ketika memosting hal-hal yang kurang etis di media sosial agar bisa mendapat banyak pengikut, penonton dan juga bisa mendapat monetisasi dari Meta. Ini merupakan cara berpikir banal yang patut dihindari.

Media komunikasi sosial sejatinya membuat manusia mampu menjadi sahabat seperjalanan bagi banyak orang, untuk menyalakan kembali harapan dalam diri mereka pada masa penuh pergulatan ini. 

Sebuah komunikasi yang mampu berbicara ke dalam hati, tidak membangkitkan reaksi defensif dan kemarahan yang menggebu-gebu, tetapi sikap terbuka dan bersahabat. 

Sebuah komunikasi yang mampu fokus pada keindahan dan harapan bahkan di tengah situasi yang tampaknya membuat kita putus asa. 

Komunikasi yang menghasilkan komitmen, empati, dan kepedulian pada orang lain. 

Sebuah komunikasi yang membantu kita dalam "mengakui martabat setiap manusia, dan bekerja sama merawat rumah kita bersama"  (Dilexit Nos, 217).

Kecerdasan Palsu dan Berita Bohong

Di tengah kemajuan media komunikasi sosial, perang media sosial pun tak terhindarkan.

Salah satu kehancuran yang nyata dalam perang media sosial menyebarkan informasi dan berita palsu dengan postingan video hasil editan AI. 

Banyak orang terperangkap dan terlanjur percaya hingga mengakibatkan provokasi dalam hidup bersama. 

Dampak lain yang nyata juga adalah menurunnya minat membaca dan meningkatnya minat menonton.

Di tengah perang media sosial lahir pula kecerdasan palsu akibat canggihnya kecerdasan buatan yang mana membuat banyak orang kurang secara intelektual dan tertinggal dalam persaingan global. 

Kecerdasan palsu sangat berbahaya dalam dunia kerja dan bisa menimbulkan risiko kecelakaan kerja menjadi tinggi. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved