Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Mempertanyakan Realitas, Tugas Filsafat bagi Jurnalisme 

Namun, untuk menjalankan tugas mulia ini dengan efektif, jurnalisme memerlukan lebih dari sekadar teknik dan teknologi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Berno Jani 

Namun, dalam menjalankan tugasnya, jurnalisme tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga risiko besar.

Menulis tentang peristiwa bukan sekadar melaporkan “ini-itu” itu, sebab itu adalah tindakan bertanggung jawab terhadap masyarakat, menghadirkan kenyataan yang seutuhnya, meski sering kali itu berarti berhadapan dengan kekuasaan yang tak ingin kebenaran terungkap. 

Banyak jurnalis yang harus membayar mahal dengan nyawa mereka. Selain risiko fisik, jurnalisme juga berhadapan dengan tantangan besar di era digital ini. 

Teknologi yang memungkinkan penyebaran informasi dengan sangat cepat juga memunculkan bencana informasi, kebanjiran data yang sering kali sulit dibedakan antara fakta dan disinformasi. 

Di dunia yang dipenuhi informasi berlebihan, jurnalis harus bertindak sebagai penyaring yang kritis, memastikan bahwa hanya kebenaran yang dipublikasikan. Kecepatan dan keakuratan menjadi dua elemen yang harus selalu seimbang. 

Jurnalisme juga tidak hanya berfungsi sebagai perekam fakta semata. Ia adalah alat untuk mendorong perubahan sosial dan bahkan revolusi. 

Sejak zaman Johannes Gutenberg, di mana mesin cetak memungkinkan informasi menyebar jauh lebih luas, jurnalisme telah menjadi katalisator perubahan besar. 

Dari Revolusi Prancis hingga kebangkitan demokrasi di dunia Arab, jurnalisme telah membuktikan bahwa ia mampu mengguncang tatanan sosial dan politik yang ada. 

Dengan media sosial yang kini menjadi bagian dari lanskap informasi, jurnalisme telah mengalami transformasi yang dahsyat, dari alat penyebar informasi menjadi kekuatan pemberdayaan bagi masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam proses penyebaran berita.

Namun, dengan semakin banyaknya sumber informasi, ada satu tantangan yang semakin nyata: pluralitas informasi. 

Dengan begitu banyaknya sudut pandang yang beredar, bagaimana jurnalis dapat tetap menjaga objektivitasnya? 

Di sinilah filosofi memainkan peran yang sangat penting. Jurnalisme perlu merenung, tak hanya untuk menelisik kebenaran fakta, tetapi juga untuk mempertanyakan struktur nilai yang ada di balik fakta itu sendiri. 

Dalam dunia di mana kebenaran bisa dibengkokkan, jurnalisme harus lebih dari sekadar sekumpulan laporan, ia harus menjadi instrumen moral, yang memastikan bahwa tidak ada kebenaran yang terdistorsi demi kepentingan tertentu.

Membangun Kebenaran di Tengah Gelombang Informasi

Hubungan antara filsafat dan jurnalisme, sebagaimana digambarkan dalam pemikiran Fidelis Regi Waton dan realitas praktik jurnalistik kontemporer merupakan sebuah keharusan etis dan epistemologis. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved