Opini
Opini: Mempertanyakan Realitas, Tugas Filsafat bagi Jurnalisme
Namun, untuk menjalankan tugas mulia ini dengan efektif, jurnalisme memerlukan lebih dari sekadar teknik dan teknologi.
Oleh: Berno Jani
Mahasiswa di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Maumere, Flores - NTT
POS-KUPANG.COM - Belakangan ini arus informasi mengerogoti sendi-sendi kehidupan manusia, kebenaran tidak lagi ditemukan tetapi diciptakan.
Akibatnya, kebenaran menjadi barang langka, yang tersembunyi di balik lapisan kebingungan, manipulasi data, dan hoaks. Di sinilah peran jurnalisme yang sangat mendesak.
Mereka seharusnya tidak hanya sebagai perekam peristiwa, tetapi sebagai pion yang menjaga integritas kebenaran agar mampu menembus kabut disinformasi.
Namun, untuk menjalankan tugas mulia ini dengan efektif, jurnalisme memerlukan lebih dari sekadar teknik dan teknologi.
Ia membutuhkan filsafat sebagai basis yang kuat, panduan untuk berpikir kritis, merefleksikan, dan menguji setiap lapisan kenyataan yang terungkap.
Filsafat dengan segala kedalamannya menawarkan alat yang diperlukan untuk menanggapi tantangan ini.
Dalam harmoni yang penuh makna antara filsafat dan jurnalisme, kita menemukan kekuatan untuk medekonstruksi realitas, memperjuangkan kebenaran, dan menghidupi prinsip-prinsip moral yang menyentuh cita rasa kebersamaan.
Inilah panggilan bagi jurnalis dan pemikir untuk berkolaborasi, demi masyarakat yang lebih sadar, lebih adil, dan lebih cakap dalam memahami dunia di sekitar mereka.
Filsafat: Pencarian Kebenaran
Filsafat dalam pemahaman Fidelis Regi Waton bukan sekadar kajian intelektual abstrak yang terkungkung di menara gading akademis, melainkan sebuah jalan hidup yang membumi, menyeluruh, dan transformatif.
Ia berpangkal dari thaumazein, keheranan mendasar manusia terhadap eksistensinya dan dunia di sekelilingnya.
Keheranan ini bukan rasa bingung yang melemahkan, melainkan impuls intelektual yang mendorong manusia untuk memahami dan menggali makna terdalam kehidupan.
Tokoh-tokoh klasik seperti Plato, Aristoteles, hingga Francis Bacon dan Thomas Aquinas menegaskan bahwa keheranan adalah akar dari semua pengetahuan.
Dalam konteks ini, filsafat adalah panggilan untuk berpikir, merefleksikan, dan mempertanyakan segalanya, termasuk apa yang selama ini dianggap pasti dan mutlak.
Berno Jani
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
ITFK Ledalero
Opini Pos Kupang
Jurnalisme
filsafat
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Berno-Jani.jpg)