Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Mempertanyakan Realitas, Tugas Filsafat bagi Jurnalisme 

Namun, untuk menjalankan tugas mulia ini dengan efektif, jurnalisme memerlukan lebih dari sekadar teknik dan teknologi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Berno Jani 

Ia menumbuhkan sikap skeptis untuk membangun kembali pemahaman yang lebih kokoh dan otentik tentang dunia dan diri sendiri.

Secara etimologis, kata filsafat berasal dari kata Yunani philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan), yang berarti cinta akan kebijaksanaan. 

Namun, kebijaksanaan di sini tidak semata-mata soal pengetahuan intelektual, melainkan integrasi antara rasionalitas, intuisi, etika, pengalaman, dan kesadaran diri. 

Berfilsafat adalah menghidupi nilai-nilai kearifan dalam tindakan nyata dan refleksi batin. 

Waton menegaskan bahwa filsafat tidak memiliki objek kajian tunggal seperti ilmu lain—ia lebih menyerupai aktivitas atau energeia, yakni sebuah gerak pencarian terus-menerus menuju kebajikan, kebenaran, dan kehidupan yang lebih baik. 

Karena itu, filsafat menolak dogmatisme dan senantiasa membuka diri pada koreksi, dialog, dan pembaruan. 

Ia tidak memberikan jawaban final, melainkan menyediakan kerangka berpikir kritis untuk menguji, memaknai, dan mengolah ulang berbagai jawaban yang muncul sepanjang zaman.

Filsafat juga menjadi alat pembebasan dan pencerahan manusia. Ia mengajak individu untuk mandiri secara intelektual dan eksistensial—berpikir sendiri (Selbstdenken) dan menentukan nasib sendiri (Selbstbestimmung). 

Dalam berfilsafat, seseorang tidak hanya diajak berpikir logis, tetapi juga untuk mengenali batas-batas pengaruh luar dan belajar membedakan mana yang dapat dikendalikan dan mana yang harus diterima dengan bijak. 

Filsafat membentuk pribadi yang otonom, sadar diri, dan tangguh menghadapi manipulasi, termasuk oleh institusi sosial dan agama. 

Waton mengingatkan bahwa berfilsafat tidak pernah terpisah dari relasi sosial. Justru melalui filsafat, individu dapat terlibat dalam kehidupan bersama yang lebih adil dan reflektif—menghidupi kebijaksanaan demi bonum commune. 

Dalam terang itulah filsafat menjadi res publica, urusan publik yang mestinya dipraktikkan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja sebagai panduan untuk menjalani hidup yang merdeka, bijak, dan penuh makna.

Jurnalisme Harus Menjadi Pilar Kebenaran

Jurnalisme sering kali dianggap sebagai kegiatan yang praktis dan langsung, tetapi sesungguhnya memiliki kedalaman yang jauh lebih kompleks dari sekadar pencatatan fakta. 

Di dalam dunia yang semakin terhubung ini, di mana informasi tersebar dalam sekejap mata, jurnalisme memegang peran yang sangat penting dalam menjaga integritas kebenaran. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved