Sabtu, 23 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Socrates Sang Pemimpin Bijaksana

Socrates, sebagai seorang pemimpin, sering duduk sendiri di balkon istananya, memandangi langit malam yang luas. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
STOIC HANDBOOK
ILUSTRASI 

Oleh: Sirilus Aristo Mbombo*

POS-KUPANG.COM - Di sebuah kota yang megah, di mana lampu-lampu berpendar menerangi malam yang sunyi, hiduplah seorang pemimpin bijaksana bernama Socrates

Kota itu, dengan gemerlap cahayanya, seakan-akan ingin berbisik kepada setiap manusia yang melintasinya bahwa kehidupan ini harus berjalan di bawah cahaya kebenaran. 

Namun, meski terang benderang, tidak semua orang mampu melihat jalan yang lurus. 

Di balik tembok-tembok tinggi dan jalan-jalan yang ramai, ada manusia yang sibuk mengejar ambisi, terjebak dalam rutinitas tanpa makna, dan terperangkap dalam bayang-bayang kebingungan. 

Mereka terus bertanya, ke manakah arah hidup yang sesungguhnya? Apa makna dari keberadaan mereka?

Socrates, sebagai seorang pemimpin, sering duduk sendiri di balkon istananya, memandangi langit malam yang luas. 

Ia berpikir tentang rakyatnya, tentang permasalahan yang semakin menumpuk, tentang keadilan yang mulai pudar di tengah kebisingan kekuasaan. 

Ia tahu bahwa banyak dari mereka yang hidup dalam kecemasan dan kegelisahan, haus akan kebenaran yang sejati. Namun, kebenaran sering kali bersembunyi di balik tabir kepalsuan. 

Ia melihat bagaimana proyek-proyek besar direncanakan dengan gagasan yang megah, tetapi kemudian runtuh dalam kegagalan. Ia menyaksikan bagaimana janji-janji manis diucapkan, tetapi hanya menjadi abu dalam kenyataan. 

Kekecewaan, ketakutan dan kebingungan menjadi teman akrab bagi mereka yang telah kehilangan arah.

Socrates tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya berpikir tanpa bertindak. Ia memahami bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang berkata-kata indah, tetapi tentang berjalan di atas kebenaran yang diyakini. 

Malam itu, ia memutuskan untuk turun ke jalan, menyaksikan langsung bagaimana rakyatnya hidup. 

Di tengah lorong-lorong sempit dan pasar yang mulai sepi, ia mendengar suara-suara lirih: keluhan seorang ibu yang kehilangan pekerjaannya, bisikan seorang pedagang yang merasa dizalimi oleh kebijakan yang tidak adil, dan ratapan seorang pemuda yang kehilangan harapan.

Socrates mendengar semua itu. Ia tahu, dalam kehidupan ini, manusia sering berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menjalankannya. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved