Opini
Opini: Blue Carbon NTT dan Janji Ekonomi yang Belum Ditunaikan
NTT memiliki peluang besar melalui pariwisata bahari, budidaya laut ramah lingkungan, perikanan berbasis ekosistem, hingga perdagangan karbon.
Oleh: Petters Neldy Suyana Feoh
ASN, Mahasiswa Pascarjana UGM Yogyakarta, dan Pemerhati Kebijakan Publik.
POS-KUPANG.COM - Ada sesuatu yang perlahan menghilang dari pesisir Nusa Tenggara Timur ( NTT) dan jarang sekali dibicarakan dengan serius.
Ia tidak pergi dengan penuh drama, meninggalkan jejak, dan viral di media sosial.
Kepergiannya lebih dari sekadar akar yang melepaskan genggaman dari lumpur, menyebabkan karbon yang tersimpan di dalamnya naik ke atmosfer tanpa ada kepedulian.
Inilah gambaran ekosistem pesisir NTT hari ini, dimana mangrove, lamun dan terumbu karang yang disebut dalam berbagai literatur global sebagai blue carbon.
Baca juga: Beranda Kita: Amfoang dan Gibran
Garis pantai sepanjang lebih dari 5.700 km menjadikan NTT sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki pesisit terpanjang di Indonesia.
Dalam bentangan tersebut, terdapat sekitar 23.000 Ha serta hamparan padang lamun yang belum terpetakan seluruhnya.
Secara global, ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon hingga 1.023 ton CO2 per hektare, angka ini sekitar tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan hutan tropis darat pada umumnya, sebagaimana dicatat dalam laporan Center for International Forestry Research (2012).
Artinya, jika kita hitung kasar, ekosistem mangrove NTT saja berpotensi menyimpan lebih dari 23 juta ton CO2.
Sebuah angka yang, jika dikonversi ke dalam harga karbon internasional saat ini berkisar antara 74 hingga 76 EUR per ton CO2, mengandung nilai ekonomi yang tidak main-main.
Di sinilah titik persoalannya. Data Global Mangrove Watch mencatat bahwa Indonesia kehilangan sekitar 1,7 juta hektare mangrove antara tahun 1996 hingga 2020 dan NTT termasuk dalam wilayah dengan laju deforestasi mangrove yang mengkhawatirkan.
Di Kabupaten Kupang, Flores Timur, dan beberapa wilayah pesisir lainnya, konversi mangrove untuk tambak, permukiman, dan pembangunan infrastruktur terus berlangsung.
Setiap satu hektare mangrove yang hilang, maka estimasinya melepaskan antara 1,7 miliar ton CO2 ke atmosfer.
Jika laju kehilangan mangrove di NTT diasumsikan hanya 500 hektare per tahun, maka potensi emisi yang terlepas setiap tahunnya bisa mencapai 500 ton CO2, sebuah beban lingkungan yang tidak kecil bagi provinsi yang kontribusi emisinya terhadap perubahan iklim global seharusnya bisa dijaga.
Blue carbon bukan sekadar isu ekologi, tetapi juga persoalan tata kelola, kebijakan, dan koordinasi lintas sektor yang masih berjalan sendiri-sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petters-Neldy-Suyana-Feoh-01.jpg)