Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Paul Sinlaeloe Aktivis HAM Indonesia 1973-2023

IRGSC adalah salah satu dari tiga kantor tempat nongkrong Paul, selain PIAR dan WALHI. Cukup lama, tulisan ini baru bisa dibuka kembali.

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Paul Sinlaeloe. 

Berbicara tentang ruang publik maupun intelektual publik untuk konteks Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur, ruang itu tidak lah sama seperti ‘wawasan barat’, di sini penuh dengan tali temali relasi sosial.

Memberikan kritik di ruang publik, berarti siap berhadapan dengan saudara sendiri, sekian anggota klan, maupun kawan lama. Untuk itu setiap kritik perlu dibalut dengan usaha yang luar biasa, agar relasi sosial tidak lah buyar.

Kadang, jika terlalu kompleks seorang intelektual publik pun masuk dalam titik diam. Paul hidup dalam dilema itu.

Kita kehilangan seorang ‘guru besar hukum’ praktisi pembela orang-orang kecil, korban pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pembela publik terhadap aktivitas anti korupsi.

Salah satu kehilangan besar adalah kita hampir saja punya pengacara sekelas Yap Thiam Hien, seorang pemikir, pengacara berintegritas, yang bergerak di dalam sistem, membuka wawasan gelap ruang peradilan yang akhir-akhir ini sedang tiba di titik terendah.

‘Membayangkan’ Paul berorasi di pengadilan, menyampaikan argumentasi hukum di ruang sidang adalah mimpi bersama. Cita-cita ini lah yang perlu dilanjutkan oleh generasi advokat dan pembela publik pasca berpulangnya Paul Sinlaeloe.

Paul, Belanda, dan Wijaya Kusuma

Tulisan ini diedit untuk kedua kalinya pada saat turnamen sepakbola Euro 2024. Paul adalah pendukung berat Tim Belanda sejak awal. Karena kecintaannya pada Belanda, jas oranye pula yang dipakainya saat menikah dengan Yedith Mella, Nona Timor-Rote.

Tentang pernikahan ini, kami mengingat momen yang diceritakan oleh Bapak Pdt.Icha Frans (Pendiri Yayasan Alfa Omega (YAO), saat kami datang ‘Selamat Natal’.

Bapa Icha ‘bongkar rahasia’ tentang pengalamannya saat memimpin ibadat rumah tangga di rumah Bapa Min (Bapak dari Paul) di Tarus.

“Bapa Min minta saya berdoa supaya Paul cepat dapat jodoh dan menikah, doa belum habis Paul sudah jalan duduk di belakang,” kata Bapa Icha dan kami berdua tertawa terpingkal-pingkal karena bisa ‘pegang kartu truf Paul’. Hidup sebagai aktivis tulen membuat Paul telat menikah.

Selain jago dansa ‘patah pinggang’, Paul adalah seorang penggemar tanaman kaktus. Tanaman yang cocok untuk lahan kering. Ia mulai dengan apa yang ada.

Seperti Bung Wijaya Kusuma, yang juga bagian dari kaktus, miliknya yang mekar hanya beberapa jam di malam hari dan meninggalkan kesan mendalam, Paul pergi dengan meninggalkan ingatan putih untuk para sahabatnya.

Kita kehilangan seorang aktivis penulis dari pinggir Indonesia yang semakin jarang. Kita kehilangan seorang sahabat yang teramat tulus. (*)

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved