Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Paul Sinlaeloe Aktivis HAM Indonesia 1973-2023

IRGSC adalah salah satu dari tiga kantor tempat nongkrong Paul, selain PIAR dan WALHI. Cukup lama, tulisan ini baru bisa dibuka kembali.

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Paul Sinlaeloe. 

Oleh: Dominggus Elcid Li
Peneliti IRGSC, anggota Forum Academia NTT (FAN)

POS-KUPANG.COM - Tidak terasa sudah setahun lebih Paul Sinlaeloe berpulang. Paul SinlaEloE adalah aktivis HAM Indonesia yang berkiprah di Kupang, NTT dan berpulang pada tanggal 27 Januari 2023, setelah kritis selama 10 hari.

Kepulangannya mengagetkan bagi sebagian yang tidak mendapat informasi bahwa Paul tidak sadarkan diri sejak sejak ia diantarkan ke RS Kota Kupang SK Lerrick pagi hari tanggal 17 Januari 2023.

Malamnya tanggal 16 Januari, Paul masih begadang, ia meneliti ulang naskah KUHAP yang baru, sebelum serangan jantung menjelang subuh.

Tulisan ini seharusnya diterbitkan di tahun 2023 lalu, dan diingatkan untuk dipublikasikan, setelah kami bersama-sama memasang foto Paul Sinlaeloe di dinding para sahabat (hall of friends) yang kami dedikasikan di kantor IRGSC ( Institute of Resource Governance and Social Change) minggu lalu.

IRGSC adalah salah satu dari tiga kantor tempat nongkrong Paul, selain PIAR dan WALHI. Cukup lama, tulisan ini baru bisa dibuka kembali.

Orang tua Delvis, Paulus Manno Raga (kiri) pose bersama Direskriumum POlda NTT, Kombespol. Yudi Sinlaeloe, S.IK  dan Koordinator Divisi Hukum PIAR NTT, Paul Sinlaeloe.
Orang tua Delvis, Paulus Manno Raga (kiri) pose bersama Direskriumum POlda NTT, Kombespol. Yudi Sinlaeloe, S.IK dan Koordinator Divisi Hukum PIAR NTT, Paul Sinlaeloe (tengah). (ISTIMEWA)

Sebagai seorang penulis buku, Paul terkenal total dalam bekerja. Ia jarang membaca setengah-setengah.

Topik yang ia sukai akan digumuli, dibedah, dikunyah, dan muncullah buku baru. Buku ‘Tindak Pidana Perdagangan Orang’ yang diterbitkan Setara Press tahun 2017 adalah salah satu buktinya.

Di tengah minimnya buku terkait tindak pidana perdagangan orang, bukunya hadir dan menjadi referensi. Buku itu merupakan hasil dari riset aksi yang intensif dilakukan selama 4 tahun.

Dengan caranya ini ‘Om Pol’ mengkristalkan pencariannya dalam tulisan, yang kemudian dipadatkan menjadi buku. Beberapa naskah buku masih dalam antrian penerbit, dan satu draft buku sedang ia persiapkan untuk terbit. Kami berharap naskahnya bisa tetap diterbitkan.

Sebagai penulis cum aktivis, Paul termasuk orang yang nyentrik. Ia bukan tipikal aktivis ‘hasil kaderisasi’, Paul lebih merupakan produk tunggal hasil lanjutan pencariannya sendiri yang besar karena pencariannya.

Contohnya, ia hanya membalas begini ‘Om, Profesor ini, atau Si A mengutip beta pung buku…’, ketika kami bercanda, ‘kapan Paul akan pergi sekolah’. Ia pantas berkata seperti itu karena bukunya pun dikutip dalam putusan MA, terkait putusan menyangkut perdagangan orang.

Paul adalah penulis yang tekun, dan disiplin. Saya sendiri yakin jika kala itu Paul bersekolah hingga jenjang Doktor Hukum, Paul akan menjadi pemikir kaliber. Ya, sayang ‘kerinduan itu’ digariskan berbeda oleh Sang Khalik.

Tapi, seperti mazhab penulis buku ‘Sekolah itu Candu’ dari Bang Roem Topatimasang, orang tidak perlu sekolah serius-serius sampai ‘S-teler’, jika mampu disiplin berpikir serius dengan tekun.

Lebih jauh lagi, Paul adalah tipe pencari yang tekun ia beredar dari rumah komunitas satu ke lainnya mencari kawan diskusi, maupun untuk berbagi ilmu pada yang muda-muda.

Ia aktif menjadi pembicara pro bono alias tidak berbayar dari satu komunitas ke komunitas lain, entah itu forum desa, gereja, lingkar aktivis perempuan, hingga kaderisasi aktivis muda berbagai organ aktivis mahasiswa.

Tidak heran jika lingkar perkawanan Paul merata dari rentang umur muda sampai paling tua. Dari kelas tukang ojek hingga pimpinan partai politik. Lengkap.

Menemani para korban

Sekolah kehidupan ditempuhnya melalui pengalaman menangani dan menemani para korban pelanggaran HAM maupun pencari keadilan selama dua dekade.

Sebagai aktivis PIAR, Paul sangat telaten menemani para pelapor. Kurang lebih 500 BAP telah ‘didesainnya’. Rutinitas mendengarkan kronologi, membedah pasal, lalu menentukan titik masuk dan mendudukan ‘kasus hukum’ adalah keahliannya.

Kantor polisi, kejaksaan, pengadilan, merupakan titik wajib yang rutin Paul kunjungi. Di fase awal biasanya Paul tertib mendengarkan kronologi dan mencatatnya. Para penyidik di kantor polisi entah polres kota, polres kabupaten, maupun Polda NTT, dan sebagian yang sudah ada di Mabes Polri adalah teman-temannya.

Sebelum melapor, biasanya sehari sebelumnya korban didampingi dan dikuatkan. Paul tekun membuka kejadian, dan satu kelebihannya adalah ia tahu persis ‘referensi polisi’. Sebagai ‘petarung harian’ dalam mengawal pencari keadilan, Paul mengerti titik kuat dan lemah para pelaku dalam sistem peradilan.

Biasanya ia mengingatkan ‘Jangan main-main dengan ini…’ Sebagai pendamping pencari keadilan Paul terkenal rapi, selalu berkemeja, bersepatu, dan necis. Sambil tak lupa membalikkan kacamata hitam di belakang kepala. Ciri unik ini seolah ingin menyatakan bahwa ‘saya sedang mengawasi anda’.

Paul baru saja dilantik menjadi pengacara KAI (Konfederasi Advokat Indonesia) beberapa bulan sebelum ia meninggal.

Ia berencana bersama Victor Manbait, Direktur Lakmas Cendana Wangi, dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan berbuat sesuatu dalam posisi baru sebagai pengacara. Ya, Paul akhirnya ‘ingin beracara di pengadilan’, setelah sekian lama menemani korban di fase pembuatan BAP.

Membayangkan ia tampil dengan kemampuan berargumentasinya yang mumpuni, ruang sidang tentu akan menjadi sangat menarik. Saat itu saya berjanji akan hadir dalam ruang pengadilan jika Paul tampil perdana.

Dinamika dan dilema aktivis

Sebagai aktivis, pemikir, penulis buku hasil olah gerak di PIAR (Perkumpulan Pengembangan Insiatif dan Advokasi Rakyat) , Paul Sinlaeloe merupakan salah satu intelektual publik generasi 1990-an, atau generasi gerak kritis di era ujung akhir Soeharto.

Dua dekade setelah rezim Orde Baru, peran LSM yang marak di tahun 1990-an kian surut. Sebagian memilih terjun dalam partai politik, sebagian lagi bergerak sebagai pejabat.

Paul Sinlaelole adalah sedikit yang memilih untuk tetap berada di perahu bercadik. Ia bertarung dengan angin kota hingga akhir hayat. Paul adalah salah satu musafir pengetahuan, yang melepaskan diri pada Yang Kuasa sambil belajar. Gaji tidak pernah menjadi tujuan dan patokan untuk Paul dalam bergerak.

Berbicara tentang ruang publik maupun intelektual publik untuk konteks Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur, ruang itu tidak lah sama seperti ‘wawasan barat’, di sini penuh dengan tali temali relasi sosial.

Memberikan kritik di ruang publik, berarti siap berhadapan dengan saudara sendiri, sekian anggota klan, maupun kawan lama. Untuk itu setiap kritik perlu dibalut dengan usaha yang luar biasa, agar relasi sosial tidak lah buyar.

Kadang, jika terlalu kompleks seorang intelektual publik pun masuk dalam titik diam. Paul hidup dalam dilema itu.

Kita kehilangan seorang ‘guru besar hukum’ praktisi pembela orang-orang kecil, korban pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pembela publik terhadap aktivitas anti korupsi.

Salah satu kehilangan besar adalah kita hampir saja punya pengacara sekelas Yap Thiam Hien, seorang pemikir, pengacara berintegritas, yang bergerak di dalam sistem, membuka wawasan gelap ruang peradilan yang akhir-akhir ini sedang tiba di titik terendah.

‘Membayangkan’ Paul berorasi di pengadilan, menyampaikan argumentasi hukum di ruang sidang adalah mimpi bersama. Cita-cita ini lah yang perlu dilanjutkan oleh generasi advokat dan pembela publik pasca berpulangnya Paul Sinlaeloe.

Paul, Belanda, dan Wijaya Kusuma

Tulisan ini diedit untuk kedua kalinya pada saat turnamen sepakbola Euro 2024. Paul adalah pendukung berat Tim Belanda sejak awal. Karena kecintaannya pada Belanda, jas oranye pula yang dipakainya saat menikah dengan Yedith Mella, Nona Timor-Rote.

Tentang pernikahan ini, kami mengingat momen yang diceritakan oleh Bapak Pdt.Icha Frans (Pendiri Yayasan Alfa Omega (YAO), saat kami datang ‘Selamat Natal’.

Bapa Icha ‘bongkar rahasia’ tentang pengalamannya saat memimpin ibadat rumah tangga di rumah Bapa Min (Bapak dari Paul) di Tarus.

“Bapa Min minta saya berdoa supaya Paul cepat dapat jodoh dan menikah, doa belum habis Paul sudah jalan duduk di belakang,” kata Bapa Icha dan kami berdua tertawa terpingkal-pingkal karena bisa ‘pegang kartu truf Paul’. Hidup sebagai aktivis tulen membuat Paul telat menikah.

Selain jago dansa ‘patah pinggang’, Paul adalah seorang penggemar tanaman kaktus. Tanaman yang cocok untuk lahan kering. Ia mulai dengan apa yang ada.

Seperti Bung Wijaya Kusuma, yang juga bagian dari kaktus, miliknya yang mekar hanya beberapa jam di malam hari dan meninggalkan kesan mendalam, Paul pergi dengan meninggalkan ingatan putih untuk para sahabatnya.

Kita kehilangan seorang aktivis penulis dari pinggir Indonesia yang semakin jarang. Kita kehilangan seorang sahabat yang teramat tulus. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved