Cerpen
Cerpen: Kerasnya Dompet Coklat
Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben."
Oleh: Felix Riondi Sugar *
POS-KUPANG.COM - “Itu kan! Sudah kubilang pikir dulu. Sekarang kamu tahu akibatnya," kata Beny dengan nada rendah tanpa simpati sedikit pun.
Pius hanya duduk terpaku.
Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben."
Kemarin pagi, polisi sudah datang ke kantor desa. Ada 4 orang dengan senjata lengkap.
Mereka sudah memeriksa berkas-berkas bersama penyelidik yang lain. Dan sekarang aku sangat takut. Apalagi sekretaris desa pun sudah dipanggil.
Dia sudah bicara banyak tentang kasus ini. Kalimat itu seperti pisau yang menancap di kepala Pius. Ia terus menunduk, tak berani mengangkat wajah seperti biasanya.
Baca juga: Cerpen: Antara Cinta Terlarang
Sejak pagi namanya terus dibicarakan di warung-warung kopi milik mbak Veronika.
“Jangan langsung menghakimi dulu. Banyak juga yang sudah dia buat untuk desa kita,” ujar seorang warga, mencoba meredakan situasi. Bukan soal itu, sahut warga yang lain. Kalau benar dia makan uang desa, itu bukan kesalahan kecil.
Seorang bapak tua menggeleng pelan sambil berkata "Baru setahun menjabat sudah begini! Dulu kita pilih dia supaya desa ini lebih maju.:
Percakapan makin tajam dan panas. Suara cangkir beradu dengan meja, bisik-bisik berubah jadi nada tinggi. Nama Pius disebut berulang-ulang, seperti sedang diadili tanpa ruang pembelaan sedikit pun. Rupanya warga sudah muak dan resah sekali.
Semua bermula dari utang yang tak lagi sanggup ia tutup. Pinjaman demi pinjaman ia ambil tanpa hitungan, terbawa euforia jabatan dan rasa ingin terlihat sukses.
Bisnis kecil yang dulu ia banggakan sudah lama tutup dan bangkrut. Sejak itu cicilan bank menjeratnya tanpa maaf. Telepon penagih utang datang hampir setiap malam, berdering panjang seperti ancaman.
Gajinya sebagai kepala desa tak pernah cukup ia pakai. Ia mulai sulit tidur malam. Bahkan dalam lelap pun, angka-angka utang itu tetap dan terus menghantuinya.
Di situasi yang terpuruk itu, Pius mengambil jalan tengah. Sempat ia berpikir untuk memanipulasi data warganya sendiri. Tiga nama penerima bantuan diubahnya segampang itu.
Apalagi ketiga nama warganya itu adalah musuh bebuyutan lamanya yang dulu menjadi pesaingnya dalam pemilihan kepala desa.
Dana program itu pun telah cair dan sebagiannya masuk ke rekeningnnya sendiri.
Awalnya ia berjanji pada diri sendiri: hanya meminjam, nanti pasti akan dikembalikan, yang penting utang di Bank bisa lunas.
Namun hidup tak pernah semudah itu. Tak seperti yang dibayangkanya itu. Justru malapetaka pun melimpahnya seperti tusukan jarum karat di matanya.
“Masih ada sisa berapa?” tanya Beny pelan.
“Tiga puluh juta," Kata Pius pelan.
Baca juga: Cerpen: Pana dan Mone
Beny tersenyum tipis. “Kita bisa atur, aku ada kenalan di kepolisian dan aku rasa lima belas juta cukup untuk meredakan semuanya. Percayalah padaku kamu tidak akan diperiksa lagi. Kamu jangan cemas Pius." Kata Beny sambil menyusun strategi tipu.
Pius terdiam. Ia tahu itu salah. Tapi ia sudah terlanjur berjalan terlalu jauh.
“Ben, aku hanya takut semua kasus ini akan terbongkar. Apakah kamu yakin Polisi akan terima uang suapan ini.”
"Itu gampang Pius. Percayalah padaku." Ujar Beny tegas.
***
Di sisi lain di desa tersebut, Niko duduk menatap dan memeriksa berkas-berkas fotokopian di atas meja kayu ruang tamunya. Angka-angka itu tidak masuk di akalnya.
Tiga keluarga yang tercatat menerima bantuan ternyata tak pernah disentuh pembangunan sekali pun.
Program Rumah Layak Huni hanya menjadi data-dataan saja. Ada kecurangan besar di sana. Bukan saja soal proyek rumah layak huni, banyak proyek yang lain.
“Ini tidak bisa dibiarkan!” kata Niko yang penuh kesal dengan kebijakan Pius yang semakin hari semakin aneh.
Niko adalah guru sekolah dasar di desa tersebut. Baginya, desa bukan sekadar tempat tinggal yang selalu tidak adil, melainkan tanggung jawab moral yang tak pernah selasai.
Ia muak melihat penyimpangan yang terus terjadi di desanya. Apalagi kebijakan pembangunan selama masa jabatan Pius belum menyentuh keinginan warganya.
“Kalau aku diam, siapa lagi?” sahutnya kepada istrinya yang sedang menyiapkan kopi.
“Di desa ini tidak ada yang berani bersuara. Mereka masyarakat kecil, suara mereka tidak akan terdengar, mungkin saja dengan jabatan guru yang aku punya sedikit membantu menyuarakan suara mereka. Enaknya, aku diberikan gaji yang cukup karena seorang ASN, lalu nasib tetangga kita mau dibawah kemana Bu!" Tegas Beny.
Istrinya hanya tertegun. “Pak. Tetap hati-hati. Pius punya banyak pendukung." Ia memiliki segalanya. Namun, pesan itu terlihat berlalu begitu saja.
***
Malam itu, ketika Niko baru saja terlelap, atap rumahnya tiba-tiba dihujani lemparan batu. Pom! Pang! Denting keras di atas seng membuatnya terbangun dengan jantung berdegup kencang.
Awalnya ia mengira hanya ranting kayu lapuk yang jatuh tertiup angin. Namun anjingnya menggonggong liar di teras, tak seperti biasanya.
Tiba-tiba kaca jendela di samping kamar tidurnya pecah. Sebuah batu besar tergeletak di lantai dan serpihan kaca berserakan di sekitar ranjang.
Niko pun bergegas keluar. Yang ada hanyalah halaman gelap dan sunyi penuh merinding.
Tak ada siapa-siapa. Hanya suara angin dan napasnya sendiri yang memburu. Saat itulah ia sadar ini bukan terjadi secara kebetulan. Barangkali ini adalah sebuah peringatan keras.
Sejenak ketakutan menyelinap diwajahnya. Wajah istrinya terbayang rapi dan
sayahdu. Tapi ia menguatkan dirinya dengan meyebutkan nama "Tuhan Yesus".
Teror itu justru menegaskan bahwa langkahnya sudah benar atau barangkali salah di mata yang salah.
***
Keesokan harinya Niko, tanpa ragu dan gentar, ia tetap mendatangi kantor camat dan melapor ke aparat tentang dugaan penyelewengan dana program rumah layak huni di masa kepemimpinan Pius.
Ia sangat yakin bahwa Pius telah menggelapkan dana dalam jumlah yang besar.
Pada waktu yang sama desa yang biasanya tenang mulai terbelah. Suara di setiap tenda rumah membahas isu miring tentang Pius. Berita isu miring tentang Pius tersebar luas dengan cepat.
Ada sebagian warga yang senang berharap Pius dijebloskan ke penjara. Masyarakat yang lain sudah muak dengan kebijakan Pius selama ini.
Kemiskinan tetap dan selalu ada, jalan rusak, jaringan tidak ada, listrik belum juga masuk. Apalagi mereka kesusahan air bersih.
“Kita harus dukung Pak Niko yang jujur itu, Ia telah mau berkorban untuk kita. Sumpah! Kita sudah terlalu muak muak.” Kata salah satu warga yang sedang minum kopi sore di pendopo rumah ketua KBG.
“Betul sekali. Desa kita tetap sama saja dari dulu.” Gosip pun sejalan dengan tegukan kopi pahit.
Sejak isu itu mencuat, rumah Pius terasa asing. Istrinya, hanya diam ketika makan malam. Tak ada lagi percakapan ringan seperti dulu.
Rumahnya yang mewah berubah jadi sepi. Yang dulu sering dikunjungi para petinggi dari Kabupaten di kotanya itu tiba-tiba hening tanpa suara.
“Benarkah yang mereka katakan itu?” tanya istrinya suatu malam di meja makan.
Pius tak mampu menatap mata istrinya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa lebih kecil dari bayangannya sendiri.
“Aku hanya khilaf, bisiknya.” Kata itu menggantung di antara mereka.
“Aku baru tahu dari tetangga Pak. Lalu, uang itu kau kemanakan?”
Pius terus terdiam takut untuk jujur dengan istrinya.
“Jangan-jangan kamu judi. Atau, selingkuh?" Kata istrinya penuh curiga.
Malam-malam Pius hanya bisa terjaga dalam diam dan gugup. Ketakutannya merayap pelan seperti bayangan yang tak mau pergi.
Ia sering terbangun oleh suara anjing menggonggong di kejauhan, dan dalam gelap ia meraba pergelangan tangannya sendiri seolah borgol benar-benar sudah melingkar di sana.
Wajah-wajah warga yang dulu memilihnya datang silih berganti dalam ingatannya.
Tatapan penuh harap itu kini terasa seperti tuduhan. Nama Niko pun terus menghantuinya, guru itu seperti tak pernah lelah mengusik ketenangannya dan mengusutuntaskan kasusnya itu.
Sesekali terlintas pikiran gelap yang bahkan membuatnya ngeri pada dirinya sendiri: bagaimana jika perjuangan Niko dihentikan saja?
Ia segera mengusir bayangan itu, tetapi benihnya sudah terlanjur tumbuh di sudut kepalanya. “Apakah aku harus b***h saja!" pikirannya terganggu dengan kebisingan emosi.
***
Sore ittu Benny mendatangi rumahnya. "Lima belas juta rupiah itu sudah aku beri sesuai arahanmu Niko."
Diskusi panjang berlalu begitu saja. Beny menepuk bahunya. “Tenang saja. Semua sudah aku atur.” Mereka polisi itu tidak akan mengusikmu lagi.
Pius mengangguk, tetapi dadanya tetap sesak.
“Aku belum benar-benar aman, Ben, katanya lirih.” Selama Niko masih pegang bukti, semuanya bisa berubah.
***
Suatu sore, kabar mengejutkan datang. Niko mendadak jatuh sakit. Badannya kaku dan tak bersuara. Seakan mau mati rasanya. Kabar itu cepat tersebar di wilayah Desa itu.
Istrinya yang penuh kebingungan hanya pasrah melihat suaminya Niko terbaring kaku.
Menurut laporan teman gurunya, seusai mengajar di kelas ia ke warung kopi samping jalan dan tak sengaja bertemu Pius.
Mereka kelihatannya beraduh mulut sambil saling mencekik. Tidak tahu sedang membahas apa. Memar wajah Pius merah terpampang jelas. Rupanya bukan sakit biasa.
Kasus dana desa perlahan tenggelam oleh kabar Niko yang mendadak sakit. Padahal, selama ini Niko tidak pernah sakit separah itu.
Berkas-berkas yang dulu disusunnya rapi kini tergeletak di sudut meja dan hanya berdiam memandang Niko yang terbaring kaku. Tak ada suara, seakan berkas itu tidak ada gunanya lagi.
Kabar Niko jatuh sakit tersebar dan ramai dibicarakan. Apalagi ketika Pius dan Niko beradu mulut. Banyak pertanyaan yang tersisa. Jangan-jangan? Niko diracuni? Atau? Pasti tidak mungkin. (*)
*) Felix Riondi Sugar berasal dari Manggarai-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis di beberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-dompet.jpg)