Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Pana dan Mone

Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

|
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Pana senyam-senyum sendiri sambil marah-marah menanyakan kapan motor selesai diperbaiki. Setelah motor itu sembuh, mereka kembali.

Pada minggu kedua bulan kedua tahun itu, Mone mengajak keluarganya dan Om Lukas, Pamannya yang pandai bicara untuk pergi rumah Pana. 

Mereka akan berbicara soal kemungkinan melamar Pana. Untuk saat ini, cinta dan harapannya memperistri Pana bergantung pada negoisasi pamannya. 

Om Lukas sudah biasa dijadikan juru bicara saat pinangan saudara-saudara sepupunya. 

Ini adalah pertemuan keluarga pertama dari beberapa pertemuan yang harus dibuat. Untuk pertemuan pertama, keluarga laki-laki biasanya menyampaikan niat serius mereka soal meminang. 

Di belakang itu, belis sudah dipikirkan. Keluarga Mone sudah menyiapkan belis sejumlah 100 juta dan beberapa ekor hewan untuk mempersunting Pana nantinya. Itu jumlah paling maksimal yang dapat mereka persiapkan. 

Itu pun mereka harus menjual tanah keluarga di Kewar. Sementara keluarga Pana menyambut dengan luar bisa. 

Sirih pinang, jagung bose, dan tua nakaf tak terlupakan. Ini adalah bentuk sambutan paling lazim di tempat kami. 

Setelah selesai dengan perkara pinangan yang belum menemui titik terang, kami semua menikmati hidangan sambil tertawa. 

Sopi membuat semua lebih mengalir dan juga terlihat jujur. Pana yang tadi terlihat agak kecewa lebih murah tertawa terlebih setelah duduk bersama Pana. 

Ayah Pana dan Omnya Pana yang sedari tadi berusaha keras mengulur waktu pinangan entah kenapa, tanpa beban membisikkan rahasia pada Paman Mone. 

Setelah acara itu selesai, masing-masing kembali dengan harapan bisa melanjutkan kekeluargaan lewat cinta dua anak itu. 

Hanya Om Lukas yang membawa beban tak terduga. Ia hanya ingin memikirkan cara berbicara kepada ponaan yang jadi kebanggaan keluarga itu.

Beberapa hari setelah itu, Om Lukas mengunjungi Mone di mes guru tempat ia tinggal. Mone menyambut omnya itu dengan sebotol TNI (Tua Nakaf Insana). 

Katanya minuman alkohol ini lebih cepat membuat orang tertawa dan berbicara dari kedalaman hati dibandingkan the dan kopi. 

Mereka bicara banyak dan tertawa sepanjang waktu. Yang terpenting mereka bisa berbicara serius. “Mone, kamu tidak bisa tunangan dengan Pana.”

“kenapa om?”

“Pana punya Bapak bilang ke saya kalau mereka sudah pilih calon buat dia. Pana sudah dijodohkan dengan Pak tentara dari Atambua. Anaknya Pak dokter yang kerja di Rumah Sakit Umum.” 

Om Lukas tidak pandai membuat kalimatnya lebih halus. Begitulah laki-laki yang tak suka bertele-tele.

“Yang terakhir, belisnya dua ratus juta tambah beberapa hewan. Ingat, dia seorang sarjana yang sekolah di daerah jauh. Om sudah coba cari semua bantuan tapi memang sepertinya kita tidak mampu.”

Rahasia ini membuat Mone tidak punya tenaga. Ia lemas dan menangis banyak. Bagaimana mungkin cinta dua orang muda harus terhenti karena belis yang diberikan. Katanya, ia harus bertahan di tempat tidur selama seminggu. 

Cinta yang meluap-luap itu melumpuhkan pikiran dan membunuh hasrat. Sementara di kali lain, di rumah Pana, Ayah Pana mengajaknya berbicara serius. Sepertinya ia mengalami nasib yang sama.

“Bapak sudah punya calon untuk kamu. Anaknya Dokter Edi yang membantu kakakmu mendapat posisi yang bagus di rumah sakit.”

“Tidak bisa begitu Bapak! Saya tidak kenal dia! Lagi pula saya dan Mone sudah yakin satu sama lain.” Ia marah dan menangis sejadi-jadinya.

“Tidak. Kami lebih yakin kamu dengan anak Pak Dokter yang pangkatnya di tentara sudah tinggi. Dia siap terima kamu”

“Lagi pula, Mone hanya guru honorer dengan gaji seadanya. Dia tidak bisa bayar belis kamu nanti. Om kamu dan kami semua tidak mau mempermalukan mereka nanti. Kalau pun memaksa, kalian akan hidup susah setelah menikah.”

Bapaknya Pana menggunakan segala macam cara. Bagi daerah yang kental dengan budaya seperti Lamaknen ini, tak ada alasan lain selain menuruti keinginan para orang tua. 

Pana dan Mone benar-benar tak tahu di mana harus melabuhkan perasaan. Saya menyaksikan sendiri patah hati mereka. Dan begitulah cerita mereka yang bagikan pada saya. 

Orang tua, adat, apa mereka tak tahu bahwa mencintai adalah hak setiap orang? Berita terakhir yang saya dengar, Mone tidak mau menikah. Ia mengadopsi seorang anak perempuan yang diberi nama Pana. 

Katanya, ia tak akan menentukan belis bagi pasangan anak angkatnya ini. Sementara Pana, ia bersikeras menolak untuk menikah dan membuat keluarganya marah besar. 

Wanita berhak menentukan hidupnya sendiri, memilih pasangan hidup sendiri. Setelah kejadian itu, ia bergabung dengan sebuah gerakan religius bernama Focolare. Ia memilih menjadi Single-Blessedness, tidak menikah. 

Pernikahan tidak selalu menjadi kenormalan dan kewajiban. Bukankah tidak menikah demi sesuatu yang mulia seperti melayani banyak orang terdengar lebih tinggi? Yang penting rasa cinta itu selalu tersalurkan. 

Di kedalaman hati, ia masih mencintai Mone diam- diam. Terus mencintai meski tak memiliki. Cinta itu memenuhi. Ia masih menyimpan sajak yang Mone tulis untuknya.

Pana: Wanita waktu

Setelah bumi terbentuk, wanita terlahir diam-diam.

Mereka hidup dari buah tak terberi, mimpi-mimpi alami, dan tak mau berbagi cantik. Para penyair

menulis: Rambutmu adalah padang sabana di mana semua keluh pecah.

Matamu seumpama lantunan rosario yang tak lekang usia.

Parasmu guratan antik sang khalik.

Senyummu adalah rahasia yang ingin kusimpan sendiri.

Akan kujadikan protein saat waktu makan tiba.

Suatu saat nanti, ketika aku lahir sebagai pencipta, akan kujadikan kau waktu.

Semua orang akan paham. Tak apa, rupa waktu elok tak terkira.

“Tuhan menciptakan waktu indah adanya”

Ketika rindu menyelimuti, ia suka membaca puisi itu dan ingat bahwa ada yang pernah mencintai dalam-dalam.

Alkisah, Mone dan Pana mencintai waktu seluas halaman nafas. Mone membiarkan salah satu rusuknya mencintai Pana. 

Pana mencintai puisi Mone sepanjang tualang darahnya. Beginilah kira-kira kisah cinta manusia. (*)

Oswal Amnunuh
Oswal Amnunuh (DOKUMENTASI PRIBADI OSWAL AMNUNUH)

*) Oswal Amnunuh adalah pemuda asal Kaubele, Timor Tengah Utara, NTT.  Mahasiswa Fakultas Filsafat Uwnira Kupang. Silakan berkenalan lebih lanjut di akun media sosialnya FB/Ig/TikTok: @oswalamnunuh

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved