Cerpen
Cerpen: Pana dan Mone
Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.
Dua saudara tertuanya adalah dokter di rumah sakit umum dan seorang polisi. Katanya, Pana sendiri baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu kampus terkenal di daerah seberang.
Melihatnya berjalan bersama keluarganya akan membuat kamu memikirkan lagi niatmu mendekatinya.
Akhirnya saya sendiri mesti percaya bahwa teman saya bisa menaklukan hati gadis tak tergapai itu.
Mungkin karena dia sangat aktif di Gereja dan pekerja keras. Itulah yang membuatnya berbeda. Sttt, bisa saja dia pakai obat nona. Saya mesti tanyakan jenis guna-guna yang ia pakai.
Dua tahun setelah hubungan mereka, saya berpindah tugas ke Atambua. Saya mendapatkan pekerjaan baru di kota. Kami semua sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik. Pana mengajar di SMA Negeri Nualain.
Dia tengah berbahagia karena sudah menjadi pegawai negeri. Dua bulan yang lalu, dari 1.500 honorer yang mengikuti tes CPNS, Ia dan 19 guru lainnya dinyatakan lolos.
Orang tuanya sempat membuat syukuran untuk merayakan pencapaian anak perempuannya itu. Ayahnya berharap agar Pana suatu hari bisa menggantikannya sebagai kepala sekolah.
Tak sia-sia orang tua menyekolahkannya jauh-jauh ke Pulau Jawa. Sementara nasib sohib saya tak kalah beruntungnya. Ia sekarang sudah menjadi wakil kepala sekolah di SD Joiltoi kampung tetangga.
Kata Pejabat Pendidikan kabupaten, hanya dia yang punya kualifikasi itu. Mereka menganggap ia mampu.
Ia paham dengan visi pendidikan yang direncanakan pemerintah dan melek teknologi karena hanya dia yang punya pengalaman bersekolah di ibukota provinsi.
Sayangnya, ia belum menjadi pegawai negeri hingga saat ini. Meskipun demikian, keluarganya tetap bangga karena hanya dia Putera dari keluarga yang bersekolah tinggi.
Karena Pana dan Mone berada di tempat yang berbeda dan jauh, mereka baru bisa bertemu saat misa hari Minggu. Lalu, mereka akan jalan-jalan sampai motor masuk ke bengkel.
“Mengapa kamu suka saya?”
“Pana. Suka itu bukan pertanyaan. Itu perasaan. Tanya hal yang lain” “Tidak. Saya mau tahu kau serius atau tidak”
“Kau sendiri yang harus tanya ke diri sendiri. Kenapa kau mudah dicintai, tapi susah dilepas.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kekasih-di-pantai.jpg)