Cerpen
Cerpen: Pana dan Mone
Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.
Oleh: Oswal Amnunuh *
POS-KUPANG.COM - Alkisah, mereka tercipta dari ingin mencapai kesempurnaan. Mone membiarkan salah satu rusuknya berdiam di dalam Pana.
Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.
Mone mulai menghubungkan segala hal romantis dengan dirinya. Sehabis mengikuti misa pemberkatan nikah di Paroki Nualain, Mone mulai rajin memikirkan nasibnya.
Ia tekun meminta agar Pana menjadi yang terakhir baginya. Kisah cinta mereka cukup unik. Mereka bertemu di acara pelantikan OMK Paroki (Orang Muda Katolik) kala itu.
Pertemuan itu menanamkan nama dan kesan di hati masing-masing. Mereka sempat berdansa empat kali. Itu kali pertama saya melihat Pana berdansa.
Baca juga: Cerpen: Papan Luka
Inilah juga mengapa acara orang muda selalu ditunggu-tunggu. Waktu acara Hardiknas kemarin, mereka bertemu lagi ketika mendampingi anak-anak yang mengikuti perlombaan di sekolah tetangga.
Pada saat itu, Mone sepakat dengan niatnya untuk meminta kontak Pana. Begitulah cara hubungan orang muda sekarang berjalan.
Tak ada surat. Hanya niat dan selalu chat. Dengan begitu, perasaan akan perlahan terikat.
Semenjak kontak intens, mereka sama-sama yakin dengan perasaan meluap-luap itu. Saya tak tahu persis kapan mereka mulai bersama.
Seingat saya pada suatu Minggu, mereka berdua ke Gereja dengan satu motor. Setelah itu, saya yakin bahwa mereka sudah berpacaran.
Mone pernah memikirkan tentang rasa yang ia miliki saat ini. Dia menjelaskan panjang lebar pada saya.
“Tak ada yang paham bagaimana perasaan itu muncul. Perasaan tertarik kepada lawan jenis misalnya. Apakah perasaan itu muncul seperti sebuah ledakan di mana semua perasaan tak dapat lagi ditampung dalam wadah hati?
Kemudian semua bentuk emosi dalam wadah hati semacam saling bertempur, saling mendorong siapakah yang mesti ke luar. Karena suasana semakin kacau dan tak terkendali, salah satu emosi mesti mengalah. Jadi munculah rasa cinta.
Atau perasaan yang muncul itu hanyalah sebuah wujud dari reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh kita. Katanya, tubuh kita memiliki sistem libik yang menggerakkan hormon dalam tubuh.
Dia mengaktifkan tombol emosi saat kita mengenali orang-orang di hadapan kita yang punya kemiripan dengan mereka yang dekat dengan kita.
Sepertinya alasan kedua lebih masuk akal, akademis, dan terdengar romantis. Begitulah kira-kira rasa pada Pana muncul.”
Ia selalu begitu. Coba membuat apa pun terlihat masuk akal. Kadang kala saya merasa malah aneh.
Saya sudah mengenalnya cukup lama. Sejak bersama di SMA lalu ke universitas dan sampai kini, kepribadiannya selalu begitu. Ia terlalu memikirkan hal yang sebenarnya harus dinikmati. Orang dewasa suka mencari stres.
Meskipun demikian, kami tetap berteman akrab. Ia beruntung mengajari anak-anak sekolah dasar.
Iya, beruntung saya bilang. Mengajari anak-anak itu seperti menjadi anak-anak. Kita menjadi murah tertawa dan suka bercanda.
Beban hidup terasa ringan. Hidup terasa sangat nikmat. Stres jadi hilang. Kita menertawai kepolosan anak kecil yang pernah kita miliki juga dulu.
Suatu kali Mone sempat bercerita bagaimana ia mengajari anak-anak soal makhluk hidup.
Baca juga: Cerpen: Antara Cinta Terlarang
“Nama kecil Komodo itu biawak. Ketika mulai bertambah dewasa, mereka berpindah ke Pulau Komodo karena tempat kita tidak cukup luas. Itulah mengapa hanya ada biawak di daerah kita.”
Biasanya anak-anak mendengar itu dan mulai percaya. Mone memang kurang ajar. Bisa-bisanya anak SD disesatinya. Bagaimana bila mereka nanti yakin dengan cerita bodoh itu?
“Biarkan saja mereka. Suatu saat nanti mereka akan tahu dan belajar tak mudah percaya.”
Begitulah cara dia berpikir. Tak bisa ditebak. Itulah mengapa saya menyebutnya unik. Mungkin karena hal ini jugalah yang membuat Pana menyukainya.
Sebab hal apalagi yang bisa diunggulkan dari manusia satu ini. Tampang? Ada banyak teman OMK yang lebih oke darinya. Kendaraan? Ini mah tak mungkin. Memang ia punya motor RX-King berknalpot ribut. Tapi motor itu suka sakit.
Lebih banyak di bengkel daripada jalan-jalan. Kalau soal pekerjaan sih masih banyak anak-anak muda lain yang punya pekerjaan bagus.
Sayang sekali, mereka kalah sama Mone. Saya sebagai teman dekat cukup pesimis bahwa ia tak akan pernah mendapatkan perhatian dari Pana.
Ia tidak seperti teman-teman perempuan di daerah saya. Keluarga mereka terpandang di daerah kami dan ia beserta saudara-saudarinya belajar di sekolah favorit.
Dua saudara tertuanya adalah dokter di rumah sakit umum dan seorang polisi. Katanya, Pana sendiri baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu kampus terkenal di daerah seberang.
Melihatnya berjalan bersama keluarganya akan membuat kamu memikirkan lagi niatmu mendekatinya.
Akhirnya saya sendiri mesti percaya bahwa teman saya bisa menaklukan hati gadis tak tergapai itu.
Mungkin karena dia sangat aktif di Gereja dan pekerja keras. Itulah yang membuatnya berbeda. Sttt, bisa saja dia pakai obat nona. Saya mesti tanyakan jenis guna-guna yang ia pakai.
Dua tahun setelah hubungan mereka, saya berpindah tugas ke Atambua. Saya mendapatkan pekerjaan baru di kota. Kami semua sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik. Pana mengajar di SMA Negeri Nualain.
Dia tengah berbahagia karena sudah menjadi pegawai negeri. Dua bulan yang lalu, dari 1.500 honorer yang mengikuti tes CPNS, Ia dan 19 guru lainnya dinyatakan lolos.
Orang tuanya sempat membuat syukuran untuk merayakan pencapaian anak perempuannya itu. Ayahnya berharap agar Pana suatu hari bisa menggantikannya sebagai kepala sekolah.
Tak sia-sia orang tua menyekolahkannya jauh-jauh ke Pulau Jawa. Sementara nasib sohib saya tak kalah beruntungnya. Ia sekarang sudah menjadi wakil kepala sekolah di SD Joiltoi kampung tetangga.
Kata Pejabat Pendidikan kabupaten, hanya dia yang punya kualifikasi itu. Mereka menganggap ia mampu.
Ia paham dengan visi pendidikan yang direncanakan pemerintah dan melek teknologi karena hanya dia yang punya pengalaman bersekolah di ibukota provinsi.
Sayangnya, ia belum menjadi pegawai negeri hingga saat ini. Meskipun demikian, keluarganya tetap bangga karena hanya dia Putera dari keluarga yang bersekolah tinggi.
Karena Pana dan Mone berada di tempat yang berbeda dan jauh, mereka baru bisa bertemu saat misa hari Minggu. Lalu, mereka akan jalan-jalan sampai motor masuk ke bengkel.
“Mengapa kamu suka saya?”
“Pana. Suka itu bukan pertanyaan. Itu perasaan. Tanya hal yang lain” “Tidak. Saya mau tahu kau serius atau tidak”
“Kau sendiri yang harus tanya ke diri sendiri. Kenapa kau mudah dicintai, tapi susah dilepas.”
Pana senyam-senyum sendiri sambil marah-marah menanyakan kapan motor selesai diperbaiki. Setelah motor itu sembuh, mereka kembali.
Pada minggu kedua bulan kedua tahun itu, Mone mengajak keluarganya dan Om Lukas, Pamannya yang pandai bicara untuk pergi rumah Pana.
Mereka akan berbicara soal kemungkinan melamar Pana. Untuk saat ini, cinta dan harapannya memperistri Pana bergantung pada negoisasi pamannya.
Om Lukas sudah biasa dijadikan juru bicara saat pinangan saudara-saudara sepupunya.
Ini adalah pertemuan keluarga pertama dari beberapa pertemuan yang harus dibuat. Untuk pertemuan pertama, keluarga laki-laki biasanya menyampaikan niat serius mereka soal meminang.
Di belakang itu, belis sudah dipikirkan. Keluarga Mone sudah menyiapkan belis sejumlah 100 juta dan beberapa ekor hewan untuk mempersunting Pana nantinya. Itu jumlah paling maksimal yang dapat mereka persiapkan.
Itu pun mereka harus menjual tanah keluarga di Kewar. Sementara keluarga Pana menyambut dengan luar bisa.
Sirih pinang, jagung bose, dan tua nakaf tak terlupakan. Ini adalah bentuk sambutan paling lazim di tempat kami.
Setelah selesai dengan perkara pinangan yang belum menemui titik terang, kami semua menikmati hidangan sambil tertawa.
Sopi membuat semua lebih mengalir dan juga terlihat jujur. Pana yang tadi terlihat agak kecewa lebih murah tertawa terlebih setelah duduk bersama Pana.
Ayah Pana dan Omnya Pana yang sedari tadi berusaha keras mengulur waktu pinangan entah kenapa, tanpa beban membisikkan rahasia pada Paman Mone.
Setelah acara itu selesai, masing-masing kembali dengan harapan bisa melanjutkan kekeluargaan lewat cinta dua anak itu.
Hanya Om Lukas yang membawa beban tak terduga. Ia hanya ingin memikirkan cara berbicara kepada ponaan yang jadi kebanggaan keluarga itu.
Beberapa hari setelah itu, Om Lukas mengunjungi Mone di mes guru tempat ia tinggal. Mone menyambut omnya itu dengan sebotol TNI (Tua Nakaf Insana).
Katanya minuman alkohol ini lebih cepat membuat orang tertawa dan berbicara dari kedalaman hati dibandingkan the dan kopi.
Mereka bicara banyak dan tertawa sepanjang waktu. Yang terpenting mereka bisa berbicara serius. “Mone, kamu tidak bisa tunangan dengan Pana.”
“kenapa om?”
“Pana punya Bapak bilang ke saya kalau mereka sudah pilih calon buat dia. Pana sudah dijodohkan dengan Pak tentara dari Atambua. Anaknya Pak dokter yang kerja di Rumah Sakit Umum.”
Om Lukas tidak pandai membuat kalimatnya lebih halus. Begitulah laki-laki yang tak suka bertele-tele.
“Yang terakhir, belisnya dua ratus juta tambah beberapa hewan. Ingat, dia seorang sarjana yang sekolah di daerah jauh. Om sudah coba cari semua bantuan tapi memang sepertinya kita tidak mampu.”
Rahasia ini membuat Mone tidak punya tenaga. Ia lemas dan menangis banyak. Bagaimana mungkin cinta dua orang muda harus terhenti karena belis yang diberikan. Katanya, ia harus bertahan di tempat tidur selama seminggu.
Cinta yang meluap-luap itu melumpuhkan pikiran dan membunuh hasrat. Sementara di kali lain, di rumah Pana, Ayah Pana mengajaknya berbicara serius. Sepertinya ia mengalami nasib yang sama.
“Bapak sudah punya calon untuk kamu. Anaknya Dokter Edi yang membantu kakakmu mendapat posisi yang bagus di rumah sakit.”
“Tidak bisa begitu Bapak! Saya tidak kenal dia! Lagi pula saya dan Mone sudah yakin satu sama lain.” Ia marah dan menangis sejadi-jadinya.
“Tidak. Kami lebih yakin kamu dengan anak Pak Dokter yang pangkatnya di tentara sudah tinggi. Dia siap terima kamu”
“Lagi pula, Mone hanya guru honorer dengan gaji seadanya. Dia tidak bisa bayar belis kamu nanti. Om kamu dan kami semua tidak mau mempermalukan mereka nanti. Kalau pun memaksa, kalian akan hidup susah setelah menikah.”
Bapaknya Pana menggunakan segala macam cara. Bagi daerah yang kental dengan budaya seperti Lamaknen ini, tak ada alasan lain selain menuruti keinginan para orang tua.
Pana dan Mone benar-benar tak tahu di mana harus melabuhkan perasaan. Saya menyaksikan sendiri patah hati mereka. Dan begitulah cerita mereka yang bagikan pada saya.
Orang tua, adat, apa mereka tak tahu bahwa mencintai adalah hak setiap orang? Berita terakhir yang saya dengar, Mone tidak mau menikah. Ia mengadopsi seorang anak perempuan yang diberi nama Pana.
Katanya, ia tak akan menentukan belis bagi pasangan anak angkatnya ini. Sementara Pana, ia bersikeras menolak untuk menikah dan membuat keluarganya marah besar.
Wanita berhak menentukan hidupnya sendiri, memilih pasangan hidup sendiri. Setelah kejadian itu, ia bergabung dengan sebuah gerakan religius bernama Focolare. Ia memilih menjadi Single-Blessedness, tidak menikah.
Pernikahan tidak selalu menjadi kenormalan dan kewajiban. Bukankah tidak menikah demi sesuatu yang mulia seperti melayani banyak orang terdengar lebih tinggi? Yang penting rasa cinta itu selalu tersalurkan.
Di kedalaman hati, ia masih mencintai Mone diam- diam. Terus mencintai meski tak memiliki. Cinta itu memenuhi. Ia masih menyimpan sajak yang Mone tulis untuknya.
Pana: Wanita waktu
Setelah bumi terbentuk, wanita terlahir diam-diam.
Mereka hidup dari buah tak terberi, mimpi-mimpi alami, dan tak mau berbagi cantik. Para penyair
menulis: Rambutmu adalah padang sabana di mana semua keluh pecah.
Matamu seumpama lantunan rosario yang tak lekang usia.
Parasmu guratan antik sang khalik.
Senyummu adalah rahasia yang ingin kusimpan sendiri.
Akan kujadikan protein saat waktu makan tiba.
Suatu saat nanti, ketika aku lahir sebagai pencipta, akan kujadikan kau waktu.
Semua orang akan paham. Tak apa, rupa waktu elok tak terkira.
“Tuhan menciptakan waktu indah adanya”
Ketika rindu menyelimuti, ia suka membaca puisi itu dan ingat bahwa ada yang pernah mencintai dalam-dalam.
Alkisah, Mone dan Pana mencintai waktu seluas halaman nafas. Mone membiarkan salah satu rusuknya mencintai Pana.
Pana mencintai puisi Mone sepanjang tualang darahnya. Beginilah kira-kira kisah cinta manusia. (*)
*) Oswal Amnunuh adalah pemuda asal Kaubele, Timor Tengah Utara, NTT. Mahasiswa Fakultas Filsafat Uwnira Kupang. Silakan berkenalan lebih lanjut di akun media sosialnya FB/Ig/TikTok: @oswalamnunuh
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kekasih-di-pantai.jpg)