Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Pana dan Mone

Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

|
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Dia mengaktifkan tombol emosi saat kita mengenali orang-orang di hadapan kita yang punya kemiripan dengan mereka yang dekat dengan kita. 

Sepertinya alasan kedua lebih masuk akal, akademis, dan terdengar romantis. Begitulah kira-kira rasa pada Pana muncul.” 

Ia selalu begitu. Coba membuat apa pun terlihat masuk akal. Kadang kala saya merasa malah aneh. 

Saya sudah mengenalnya cukup lama. Sejak bersama di SMA lalu ke universitas dan sampai kini, kepribadiannya selalu begitu. Ia terlalu memikirkan hal yang sebenarnya harus dinikmati. Orang dewasa suka mencari stres. 

Meskipun demikian, kami tetap berteman akrab. Ia beruntung mengajari anak-anak sekolah dasar. 

Iya, beruntung saya bilang. Mengajari anak-anak itu seperti menjadi anak-anak. Kita menjadi murah tertawa dan suka bercanda. 

Beban hidup terasa ringan. Hidup terasa sangat nikmat. Stres jadi hilang. Kita menertawai kepolosan anak kecil yang pernah kita miliki juga dulu. 

Suatu kali Mone sempat bercerita bagaimana ia mengajari anak-anak soal makhluk hidup.

Baca juga: Cerpen: Antara Cinta Terlarang 

“Nama kecil Komodo itu biawak. Ketika mulai bertambah dewasa, mereka berpindah ke Pulau Komodo karena tempat kita tidak cukup luas. Itulah mengapa hanya ada biawak di daerah kita.”

Biasanya anak-anak mendengar itu dan mulai percaya. Mone memang kurang ajar. Bisa-bisanya anak SD disesatinya. Bagaimana bila mereka nanti yakin dengan cerita bodoh itu?

“Biarkan saja mereka. Suatu saat nanti mereka akan tahu dan belajar tak mudah percaya.”
 
Begitulah cara dia berpikir. Tak bisa ditebak. Itulah mengapa saya menyebutnya unik. Mungkin karena hal ini jugalah yang membuat Pana menyukainya. 

Sebab hal apalagi yang bisa diunggulkan dari manusia satu ini. Tampang? Ada banyak teman OMK yang lebih oke darinya. Kendaraan? Ini mah tak mungkin. Memang ia punya motor RX-King berknalpot ribut. Tapi motor itu suka sakit. 

Lebih banyak di bengkel daripada jalan-jalan. Kalau soal pekerjaan sih masih banyak anak-anak muda lain yang punya pekerjaan bagus. 

Sayang sekali, mereka kalah sama Mone. Saya sebagai teman dekat cukup pesimis bahwa ia tak akan pernah mendapatkan perhatian dari Pana. 

Ia tidak seperti teman-teman perempuan di daerah saya. Keluarga mereka terpandang di daerah kami dan ia beserta saudara-saudarinya belajar di sekolah favorit. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved