Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Petisi 

Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala.  Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN META AI
ILUSTRASI 

Dan orang-orang waras itu seperti mengejekku. “Kami telah melawan dengan cara kami sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” 

Kenapa aku terlalu naif sekaligus bodoh untuk bisa memahami hal sesederhana itu? 

AKU menghela napas panjang, menatap cakrawala senja yang menjahit luka di jantung langit. 

Warnanya remang, seperti rahasia yang tak pernah terucap. Halaman tengah tempat kami suka bercengkerama berbagi hal-hal kecil tentang pemimpin sebelumnya, kini tampak lengang.  Sebuah kesunyian tanpa bintang. Kesedihan tanpa bulan.

Batang-batang  Angsono masih berjejer kaku seperti penjaga yang begitu setia. Hanya ranting-rantingnya bergoyang pelan, melambai seperti tangan-tangan yang mengejek, mengingatkan pada kata-kataku sendiri yang terus mengadiliku. 

“Kaulah yang memicu gelombang petisi ini dan kau sendirilah yang harus mengakhirinya. Bukankah dulu kau datang dengan janji untuk tidak mengulangi sejarah yang kelam?” 

Suara itu seperti membawa bayangan-bayangan buram yang berdesak-desakan  menyeruak  benakku. 

Berjejal-jejal memenuhi rongga dada hingga terasa sesak.  Kesedihan menggenangi ruang hatiku. Pedih terasa menekan. 

Petisi itu kini bukan lagi milik para penandatangannya.  Petisi itu telah menjelma menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikhianati oleh sejarah. 
Karena ia memiliki sesuatu yang langka: keberanian untuk tidak memaafkan kesewenangan. Dan tak bisa dibungkam kekuasaan. 

Gerimis tiba-tiba menyapa tipis, sebentar saja lalu raib,  seolah langit tak sepenuhnya ingin menangis, tetapi juga tak ingin terlalu bahagia. 

Sekali lagi aku memandang hamparan halaman tengah dengan tatapan kosong. Daun-daun  Angsono berguguran. Berserakan. 

Mungkin daun itu tak pernah ingin jatuh. Mungkin ia cuma ingin lebih lama menatap langit. 

Aku ingat temanku, seorang wartawan foto, yang suka sekali memotret daun-daun yang berguguran. Sebelumnya ia seorang fotografer istana, namun beralih menjadi pengasuh rubrik sastra. 

“Seperti daun-daun hidup yang hanya sibuk berfotosintesis, banyak pemimpin yang hanya ingin tampak memimpin, bukan benar-benar memimpin,” ia memberi alasan berhenti dari jabatan yang diincar banyak wartawan foto.

Suara adzan mengagetkan lamunanku.  Aku mengambil termos kopi dalam tas lalu menuangkan isinya pada tutupan termos. Kopi tanpa gula. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved