Cerpen
Cerpen: Petisi
Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala. Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota.
Oleh: JB Kleden*
POS-KUPANG.COM - Petisi itu kini bukan lagi milik para penandatangannya. Ia telah menjelma menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikhianati oleh sejarah.
Aku berdiri di bawah langit kelabu, sebagai saksi dari suara-suara yang memilih untuk tidak diam. Dalam senyap, aku mendengar semuanya itu.
Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala. Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota.
Angin bulan Agustus menggesek dinding-dinding tembok yang mengelupas dimakan waktu.
Dinginnya menggigilkan tubuh. Namun dahiku yang licin mengkilat malah berkeringat.
Mereka membersamaiku dengan petisi sebagai hadiah bulan kemerdekaan. Dan sialnya petisi itu dengan cepat menjalar seperti api disuluti bensin.
Ini membuatku marah. Benar-benar marah. Aku menatap setiap sudut dengan kepala terbakar. Petisi telah mengancam reputasiku. Ini sudah seperti terror.
“Peace through strength” terror harus dilawan dengan pembungkaman melalui penciptaaan ketakutan.
“Betul saudara ikut petisi?” aku bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. Yang ditanya malah balik menatapku tajam menyapu seluruh diriku. Aku bergidik juga.
“Betul!” jawabnya.
“Saudara mengerti?”
“Tidak!” jawabnya ketus
Aku terkejut. “Bagaimana saudara menandatangani sesuatu yang bahkan tidak saudari pahami sendiri?”
“Soalnya aku langsung setuju. Tidak bacapun sudah ingin petisi”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Daun-gugur.jpg)