Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 3 Mei 2026, “Rumah BapaKu"
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Bacaan I: Kis. 6:1-7, Bacaan II: 1Ptr. 2:4-9, Injil: Yoh. 14:1-12
Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Hari Minggu Pekan Paskah kelima– 3 Mei 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Rumah BapaKu”.
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Bacaan I: Kis. 6:1-7, Bacaan II: 1Ptr. 2:4-9, Injil: Yoh. 14:1-12
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari Minggu Paskah kelima membawa kita pada pengharapan yang sangat nyata. Di tengah perjalanan Gereja dan kehidupan sehari-hari, kita bisa mengalami kegelisahan: tentang masa depan, tentang keberadaan iman, tentang keluarga dan komunitas.
Injil Yohanes pada hari ini menjawab kegelisahan itu dengan sabda Yesus: “Jangan gelisah… Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” Tema “Rumah BapaKu” mengundang kita memahami bahwa iman Kristen bukan sekadar janji “nanti”, tetapi arah perjalanan menuju Allah—tempat di mana kita akhirnya menemukan tujuan hidup.
Saudara-saudari terkasih.
Dalam bacaan pertama (Kis 6:1-7), di komunitas awal, muncul keluhan karena pembagian kebutuhan harian tidak merata. Para rasul tidak sekadar “memadamkan masalah”, tetapi memutuskan: doa dan pelayanan Sabda tetap diprioritaskan, sementara pelayanan meja dipercayakan kepada orang-orang yang dipilih. Gereja makin berkembang karena keadilan, ketertiban, dan kesetiaan pada tugasnya.
Pada bacaan kedua (1Ptr 2:4-9), Petrus menggambarkan umat beriman sebagai bangunan rohani: Kristus adalah batu penjuru. Orang-orang yang percaya menjadi batu-batu hidup, dibangun untuk ibadah rohani. Ini berarti identitas Kristen bukan hanya “pengikut”, tetapi juga “pendukung” karya Allah: memberi kesaksian dalam iman, kasih, dan kesetiaan—agar terang-Nya tampak.
Dan dalam Injil (Yoh 14:1-12), Yesus menenangkan para murid yang takut. Ia menjanjikan tempat tinggal di rumah Bapa dan menyatakan diri sebagai jalan: siapa yang percaya kepada-Nya akan mengenal Bapa. Namun “mengenal” di sini bukan pengetahuan dangkal, melainkan relasi yang mengubah hidup.
Karena itu, karya murid akan memantulkan karya Kristus: doa, iman, dan tindakan menjadi tanda. Poin refleksi kita adalah “Jangan gelisah”: dalam hidup, kegelisahan macam apa yang paling sering menguasai kita?
Permenungan kita: ada banyak kegelisahan kita: gelisah tentang hasil, tentang penerimaan orang, tentang masa depan keluarga, atau tentang pergumulan iman. Yesus tidak meniadakan masalah, tetapi mengajak kita menambatkan hati pada janji: Bapa menyiapkan tempat.
“Membangun rumah”: Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa “rumah” Gereja dibangun melalui pelayanan yang adil dan tertib. Dan dalam Injil ‘Rumah Bapa’ menjadi keselamatan kita.
Permenungan kita: dalam keluarga/komunitas kita, apakah ada kebutuhan yang kurang diperhatikan? Langkah apa yang bisa kita buat agar persekutuan semakin rukun? “Kristus adalah batu penjuru”: Petrus menegaskan kita untuk menjadi batu-batu hidup.
Permenungan kita: kesaksian kita tampak dalam kejujuran, kesediaan melayani, sikap memaafkan, atau keberanian berbuat benar. Sebutkan satu bidang minggu ini yang perlu kita jalani “melalui Yesus” sebagai batu penjuru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bruder-Pio-Hayon-SVD-menulis-Renungan-Harian-Katolik.jpg)