Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Petisi 

Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala.  Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN META AI
ILUSTRASI 

“Koq bisa begitu?”  

“Ya, karena aku selalu ingin mengingat bos. Dan untuk terus mengingat, harus ada petisi dulu. Tanpa petisi bos akan dilupakan, menjadi bayangan, mengambang di antara waktu yang panjang. Satu lagi, yang terpenting karena aku rindu pada versi diriku sendiri yang percaya bahwa satu tanda tangan bisa mengubah dunia.” 

“Mengubah dunia? Itu mimpi. Jika saudara mendengar sesuatu, jangan percaya begitu saja.” 

“Mungkin hanya mimpi. Tapi jerit orang yang diperlakukan tidak adil biasaya lebih keras membentur langit. Suara kami bisa bos bungkam, tapi gemanya tak bisa bos hentikan. Bos tak perlu cemas. Kami adalah angin yang tahu arah pulang. Petisi cuma interupsi yang membersamai keberadaan kita. Tidak membawa dendam. Petisi hanya membawa suara. Dan suara tidak punya musuh, hanya pendengar dan penyangkal. Bos mau mendengar silahkan. Menyangkal itu juga kemerdekaan!” 

Suaranya retak namun nyaring.  Lalu senyap. 

Senyap adalah bahasa pertama yang diciptakan angin.  Aku merasakan mata-mata yang ada dis ekelilingku itu tidak menatapku, tapi melewatiku begitu saja, seolah aku sudah menjadi sesuatu yang dikenang, bukan sesuatu yang ada untuk dilihat. 

Kemana perginya mata yang dulu melihatku dengan senyum penuh harap itu? 

Siluet senja yang jatuh dari celah-celah mendung, membentuk garis lurus seperti menaburkan kembang cahaya dari angkasa, runtuh seperti emas-emas jatuh. 

Tapi tak sampai di hatiku.  Angin  dingin yang berhembus dari pulau membasuh jiwa, terasa menusuk ubun-ubunku seperti duri yang tersembunyi. 

“Bos tak perlu cemas. Petisi hanya interupsi yang membersamai keberadaan kita. Kami tidak membawa dendam. Kami membawa suara. Dan suara tidak punya musuh, hanya pendengar dan penyangkal.”  

Kata-kata ini seperti membuka kotak pandora dalam jiwaku,  memaksaku melihat bagian diri yang sudah lama kuabaikan. 

Aku mencoba menutup telinga, tapi ternyata suara itu tidak berasal dari luar. Ia menghantam dari dalam, seperti denyut yang tak terkendali. 

Entah itu rasa takut, atau kekecewaan terhadap kenyataan; aku tak bisa menebaknya secara pasti. Dadaku sesak. 

Aku ingin membela diri, tapi apa yang bisa kukatakan? Mungkin perlu juga mendengar suara mereka. 

Bukankah dalam Bumi Manusia, Pram telah menulis “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana”. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved