Opini
Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya
Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan; semakin emosional sebuah narasi, semakin besar peluangnya untuk disebarkan.
Di media sosial, komentar dan unggahan tidak netral; tetapi membentuk cara masyarakat memahami realitas.
Narasi yang paling banyak dibagikan cenderung tampil sebagai ‘kebenaran’, meskipun itu sebenarnya hanya hasil dominasi wacana kelompok tertentu.
Foucault juga mengingatkan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui pengawasan dan normalisasi. Di ruang digital, mekanisme itu hadir lewat algoritma, tren, dan budaya viral.
Setelah seseorang menonton atau mengomentari Pesta Babi, platform akan merekomendasikan konten serupa, memperkuat kemarahan atau dukungan yang sama.
Perlahan, publik diarahkan untuk menyukai isu tertentu, membenci kelompok tertentu, atau mengikuti arus opini mayoritas tanpa sadar.
Media sosial bukan lagi sekadar ruang komunikasi biasa, tetapi mesin produksi kesadaran sosial.
Orang merasa sedang bebas berbicara, padahal pada saat yang sama mereka sedang dibentuk oleh logika platform yang menentukan apa yang layak dilihat, dibicarakan, dan dipercaya.
Baca juga: Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV
Di titik ini, teori masyarakat jaringan dari Manuel Castells menjadi relevan.
Jika Foucault menjelaskan bagaimana kuasa bekerja melalui wacana, Castells menunjukkan bagaimana wacana itu kini bergerak melalui jaringan digital global yang sangat cepat dan saling terhubung.
Kekuasaan modern tidak lagi bertumpu hanya pada institusi formal, tetapi pada kemampuan mengendalikan arus informasi dan atensi publik.
Dalam masyarakat jaringan, pengaruh dibangun melalui konektivitas; siapa yang paling mampu menciptakan viralitas, menguasai percakapan dan mempertahankan atensi publik, akan memiliki posisi dominan dalam membentuk realitas sosial.
Castells menekankan bahwa viralitas adalah bentuk kapital baru. Misalnya, potongan adegan atau seutas narasi di media sosial bisa membentuk opini publik lebih cepat daripada diskusi akademik atau kritik film terstruktur di rubrik budaya.
Dalam masyarakat jaringan, perhatian publik adalah medan perang utama. Karena itu, setelah Pesta Babi ramai diputar dalam forum-forum nonton bareng dan kemudian menjadi perbincangan di media sosial, kita melihat perebutan pengaruh antar kelompok yang ingin menentukan arah interpretasi publik: apakah film ini ancaman moral, cermin kekerasan struktural, atau tanda kebangkitan sinema dokumenter yang lebih berani.
Fenomena ini sudah jauh hari diingatkan Foucault dan para pemikir sosial kritis bahwa media sosial bukan ruang netral.
Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan; semakin emosional sebuah narasi, semakin besar peluangnya untuk disebarkan.
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
| Opini - Membaca Kasus Pantai Binongko Labuan Bajo dengan Kacamata Cleanthes |
|
|---|
| Opini: Mencari Makna Hidup di Tengah Semesta yang Terus Berevolusi |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas- Refleksi Paus Leo XIV atas Perbudakan Digital dan Realitas NTT |
|
|---|
| Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Berchemans-Ebang-03.jpg)