Opini
Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT
Anak-anak di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari.
Manusia hanya dapat menjadi bebas ketika ia mampu memahami sebab-sebab yang memengaruhi hidupnya.
Jika pemikiran ini dibawa ke dalam realitas pendidikan di NTT, maka muncul pertanyaan: apa gunanya anak masuk sekolah jika mereka tidak dilatih membaca kenyataan hidupnya sendiri?
Selama ini banyak peserta didik di NTT hanya diarahkan untuk menghafal definisi, mengejar nilai ujian, dan tunduk pada sistem pembelajaran yang jauh dari realitas sosial mereka.
Anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari.
Mereka banyak belajar teori tentang lingkungan tanpa memahami krisis air bersih yang terjadi di desanya sendiri.
Mereka menghafal konsep ekonomi tanpa pernah diajak membaca mengapa kemiskinan terus berlangsung padahal berbagai usaha telah diupayakan.
Pendidikan semacam ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai inklusi semu. Anak memang hadir secara fisik di sekolah, tetapi kesadarannya tidak pernah benar-benar dibangunkan.
Dampaknya sangat nyata. Ketika sekolah gagal dalam membangun kemampuan berpikir kritis, generasi muda menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi sosial.
Banyak anak muda kita akhirnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural, migrasi tanpa prosedur yang jelas, hingga berakhir dengan human trafficking.
Mereka sangat mudah diperalat karena sejak awal pendidikan sudah gagal melatih mereka membaca struktur sebab-akibat yang mengendalikan hidup mereka.
Dalam situasi panas seperti ini, sekolah tidak lagi menjadi alat pembebasan peradaban, melainkan tanpa sadar ikut mengawetkan ketidakberdayaan masyarakat.
Karena itu, pendidikan di NTT masih sangat membutuhkan transformasi ke arah yang lebih baik.
Kurikulum tidak boleh terus dirancang secara sentralistik dan homogen seolah-oleh seluruh daerah di Indonesia memiliki kondisi yang sama.
Realitas lokal NTT harus masuk ke ruang kelas sebagai sumber pengetahuan yang hidup.
Persoalan pertanian lahan kering, krisis air, ketahanan pangan lokal, dan migrasi tenaga kerja harus dijadikan bagian dari proses pembelajaran.
| Opini - Membangun Kesadaran Ekologis Kota Kupang: Sebuah Refleksi Kosmologis |
|
|---|
| Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme |
|
|---|
| Opini: Menalar Konflik Film Pesta Babi dalam Perspektif Politik Pengakuan |
|
|---|
| Opini: Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri? |
|
|---|
| Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Didimus-Wungo.jpg)