Opini
Opini: Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri?
Pada tahun 2021, bunuh diri merupakan penyebab ketiga kematian tertinggi di antara usia 15–29 tahun secara global .
Oleh: Herni Danisye Rosyengel Nainiti, S.Psi
Mahasiswi S2 Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
POS-KUPANG.COM - Kasus bunuh diri menjadi hal yang perlu untuk mendapatkan perhatian secara lebih karena berkaitan dengan persoalan kesehatan mental yang sangat serius.
Lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Untuk setiap kasus bunuh diri, diperkirakan ada 20 percobaan bunuh diri.
Bunuh diri dapat terjadi pada tahap kehidupan manapun dan di semua wilayah dunia.
Pada tahun 2021, bunuh diri merupakan penyebab ketiga kematian tertinggi di antara usia 15–29 tahun secara global (World Health Organization, 2021).
Hal ini menunjukkan bahwa bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja dengan tidak mengenal budaya maupun tingkat religiusitas seseorang.
Baca juga: Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital
Dalam pandangan psikologis, religiusitas yang termaksud di dalamnya, yaitu beribadah dimana religiusitas disimpulkan sebagai faktor yang mampu mencegah terjadinya bunuh diri, terutama terkait upaya bunuh diri (Yuniaty & Hamidah, 2019).
Berdasarkan hasil preliminary study dari Krisnandita dan Christanti pada tahun 2022 ditemukan bahwa faktor yang dapat mencegah seseorang untuk melakukan bunuh diri yang disebutkan oleh responden, yaitu faktor agama, iman, dukungan dari orang lain, berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan juga motivasi dari dalam diri.
Setiap orang tentunya memiliki religiusitas yang berbeda dan juga pemikiran yang berbeda pula dalam menyelesaikan masalah yang dialami seperti dengan cara bunuh diri.
Lebih lanjut, hubungan antara religiusitas dan penurunan angka bunuh diri yang diamati dalam temuan penelitian dari Jie Du tahun 2024 yang menunjukkan bahwa peningkatan religiusitas secara konsisten berhubungan dengan pengurangan kejadian bunuh diri.
Hal ini menunjukkan bahwa saat seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi, maka akan berkurang niatnya dalam melakukan bunuh diri untuk menyelesaikan persoalan yang ia hadapi.
Berdasarkan penelitian dari Mason et al pada tahun 2023 ditemukan responden yang religius melaporkan niat bunuh diri yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan responden yang tidak religius.
Namun berdasarkan penelitian dari Daniels et al tahun 2023, ditemukan bahwa orang-orang yang tidak beragama menurut kriteria yang dijabarkan dalam penelitian tidak melaporkan insiden bunuh diri yang lebih tinggi dalam hidup mereka dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang setidaknya terlibat secara agama.
Dengan demikian, meskipun tingkat bunuh diri meningkat, tampaknya sedikit berhubungan dengan sebagian besar dimensi ketidakberagamaan.
Hal ini menunjukkan bahwa beribadah bukan satu satunya solusi untuk menghentikan terjadinya bunuh diri.
| Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri |
|
|---|
| Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial |
|
|---|
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Sikap-Berdoa.jpg)