Opini
Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT
Anak-anak di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari.
Sejak dini murid perlu dilatih untuk bertanya, menilai dan menganalisis realitas yang terjadi di sekitarnya secara ilmiah.
Artinya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada sistim hafalan, tetapi harus melatih keberanian berpikir dan menghasilkan argumen pribadi.
Dalam konteks ini, guru juga perlu keluar dari pola lama yang hanya berperan sebagai penyampai materi.
Guru semestinya menjadi fasilitator dialog yang menghidupkan daya kritis peserta didik.
Ruang kelas harus lebih hidup menjadi ruang diskusi yang mendorong murid membaca kenyataan hidupnya sendiri. Selain itu, cara pandang terhadap budaya lokal juga perlu diubah.
Yang terjadi selama ini kebudayaan NTT sering hanya diperlukan sebagai simbol eksotis untuk kebutuhan seremoni dan pariwisata.
Padahal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang sangat kaya tentang cara bagaimana bertahan hidup di tengah kondisi geografis yang tidak menentu.
Pengetahuan tentang pola tanam, pengelolaan air, hingga sistem sosial adat merupakan bentuk kearifan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat.
Semua itu seharusnya tidak disimpan begitu saja sebagai romantisme masa lalu, tetapi dijadikan mitra dialog modern di dalam dunia pendidikan.
Keberhasilan pendidikan tidak bisa lagi diukur hanya melalui angka kelulusan yang sering dijadikan komoditas politik.
Pendidikan harus diukur dari sejauh mana sekolah mampu mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Apakah sekolah mampu menekan angka putus sekolah? Apakah sekolah mampu melahirkan solusi bagi persoalan desa?
Apakah pendidikan mampu membuat generasi muda NTT bertahan dan berkembang di tanahnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan kita.
Baruch Spinoza memperkenalkan konsep Conatus, yaitu saya dalam diri setiap makhluk untuk bertahan hidup dan membangunkan dirinya secara optimal. Daya hidup itu sebenarnya juga ada dalam masyarakat NTT.
| Opini - Membangun Kesadaran Ekologis Kota Kupang: Sebuah Refleksi Kosmologis |
|
|---|
| Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme |
|
|---|
| Opini: Menalar Konflik Film Pesta Babi dalam Perspektif Politik Pengakuan |
|
|---|
| Opini: Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri? |
|
|---|
| Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Didimus-Wungo.jpg)