Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme

Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai wilayah yang kaya akan alam, budaya, dan tradisi lokal.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fr. Geradus Taena, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang. 

Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme

Oleh: Fr. Geradus Taena 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai wilayah yang kaya akan alam, budaya, dan tradisi lokal. Dari Pulau Timor, Flores, Sumba, Alor, hingga Lembata, menampilkan masyarakat yang hidup dengan cara atau kebiasaan yang berbeda-beda, namun memiliki satu kesamaan yakni kedekatan dengan alam. 

Gunung, laut, padang sabana, hutan, dan tanah kering bukan hanya menjadi tempat hidup, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat NTT.

Alam dipandang sebagai sahabat kehidupan yang harus dihormati dan dijaga bersama. Keberagaman budaya di NTT juga melahirkan banyak kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat adat memiliki aturan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, leluhur, dan alam. Dalam kehidupan tradisional, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari alam itu sendiri.

Karena itu, banyak masyarakat adat di NTT hidup dengan prinsip menjaga keseimbangan kehidupan. Mereka memahami bahwa jika alam dirusak, maka manusia sendiri akan menerima akibatnya.

Namun, kenyataan hari ini menunjukkan bahwa alam NTT sedang menghadapi berbagai krisis yang serius. Hutan dengan bayaknya pohon-pohon mulai berkurang akibat penebangan liar dan pembukaan lahan yang tidak terkendali.

Banyak sumber mata air mengering ketika musim kemarau datang. Beberapa wilayah mengalami longsor, banjir, dan kekeringan yang semakin parah. Perubahan iklim juga membuat masyarakat semakin sulit bertani dan beternak.

Di daerah pesisir, kerusakan laut akibat sampah dan eksploitasi berlebihan mulai mengancam kehidupan nelayan. Krisis alam ini sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca atau kondisi geografis semata, tetapi juga oleh cara manusia memperlakukan alam.

Modernisasi sering kali membuat manusia lupa akan batas. Alam dipandang hanya sebagai sumber keuntungan ekonomi. Pohon ditebang tanpa dipikirkan kembali, tanah dieksploitasi secara berlebihan, dan lingkungan perlahan kehilangan keseimbangannya. Akibatnya, manusia sendiri mulai kehilangan rasa aman dan tenteram dalam hidup.

Dalam situasi seperti ini pemikiran Stoisisme menjadi sangat relevan untuk direfleksikan. Filsafat Stoa yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Zeno dari Citium dan Marcus Aurelius mengajarkan bahwa alam semesta diatur oleh hukum rasional yang disebut Logos.

Manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan bagian dari keteraturan kosmos sendiri karena itu manusia harus hidup selaras dengan alam dan tidak bertindak secara berlebihan. Bagi kaum Stoa, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mengikuti keteraturan alam.

Manusia diajak untuk hidup sederhana, mengendalikan diri, dan tidak dikuasai oleh keserakahan. Ketika manusia melawan keteraturan alam demi ambisi dan keuntungan pribadi, maka kehancuran perlahan akan muncul.

Stoisisme mengajarkan bahwa ketenangan hidup hanya bisa tercapai jika manusia mampu hidup harmonis dengan alam dan menerima bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kosmos yang besar.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved