Opini
Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital
Perangkat digital telah menjadi bagian penting dari kerja birokrasi modern yang menuntut kecepatan dan akurasi.
Oleh: Gergorius Babo
Anggota Tim Kerja Komunikasi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perhatian publik terhadap pejabat negara tidak pernah netral. Setiap gerak, ekspresi, dan tindakan kecil dalam agenda resmi dapat berubah menjadi bahan penilaian sosial dan politik.
Dalam komunikasi pemerintahan modern, tindakan simbolik pejabat berfungsi sebagai representasi sikap terhadap negara, masyarakat, dan institusi.
Karena itu, setiap gestur di ruang publik memiliki potensi untuk dimaknai lebih luas daripada maksud awalnya, terutama ketika peristiwa tersebut terekam dan tersebar di ruang digital yang terbuka.
Perbincangan publik kembali menguat ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena terlihat menggunakan telepon genggam saat mendampingi kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Baca juga: Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial
Peristiwa tersebut memicu diskusi tentang etika kehadiran, fokus perhatian, serta standar perilaku pejabat dalam forum resmi.
Di satu sisi, perangkat digital telah menjadi bagian penting dari kerja birokrasi modern yang menuntut kecepatan dan akurasi.
Di sisi lain, masyarakat tetap mempertahankan ekspektasi lama mengenai keseriusan penuh, fokus, dan kehadiran simbolik pejabat dalam setiap agenda kenegaraan.
Pertemuan dua tuntutan ini menghasilkan ketegangan makna yang mudah berkembang menjadi polemik.
Dalam praktik birokrasi modern, penggunaan teknologi digital telah menjadi bagian dari rutinitas kerja yang tidak terpisahkan dari tugas administrasi maupun koordinasi lapangan.
Telepon pintar, aplikasi pesan instan, hingga sistem pelaporan daring digunakan untuk mempercepat aliran informasi, mendokumentasikan kegiatan, serta merespons dinamika lapangan secara real time.
Dalam konteks kerja seperti ini, multitasking bukan lagi pengecualian, melainkan kebutuhan operasional yang melekat pada cara kerja pemerintahan modern yang semakin terhubung.
Namun persoalan muncul ketika aktivitas tersebut berlangsung di ruang publik yang terbuka dan terekam oleh kamera.
Dalam situasi seperti ini, publik tidak selalu melihat keseluruhan proses kerja yang sedang berlangsung. Yang muncul ke permukaan hanya potongan visual yang berdiri sendiri tanpa penjelasan konteks.
Kondisi ini membuat satu tindakan yang bersifat teknis dapat bergeser menjadi objek interpretasi sosial yang jauh lebih luas, bahkan melampaui maksud awal tindakan tersebut.
Gergorius Babo
Emanuel Melkiades Laka Lena
Opini Pos Kupang
pejabat publik
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri |
|
|---|
| Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial |
|
|---|
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
| Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-04.jpg)