Opini
Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial
Dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan putranya sebagai ujian keimanan
Ibadah Kurban mengingatkan kiat bahwa ini bukan sekadar aktivitas simbolik, tetapi sarana pembentukan kesadaran moral dan spiritual manusia, meminjam Bahasa Rumi “kurban merupakan metafora penyerahan total ‘ego’ atau ‘diri yang palsu’ kepada Tuhan.
Nilai Spiritual Kurban
Selain sebagai ritus keagamaan, kurban juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini mengajarkan manusia tentang keikhlasan, pengendalian diri, dan keberanian melepaskan kemelekatan duniawi.
Ali Syariati melihat kisah Nabi Ibrahim sebagai simbol perjuangan manusia melawan “berhala-berhala” dalam dirinya.
Menurutnya, Ismail tidak hanya dimaknai sebagai sosok anak yang hendak dikorbankan, tetapi juga lambang dari segala sesuatu yang paling dicintai manusia, secara reflektif kita harus kembali menanyakan kepada diri sendiri, siapakah Ismail kita hari ini?
Boleh jadi Ismail yang sedang menguasai kita adalah harta, jabatan, ego, dan ambisi kita.
Idul Adha dengan wujud raya penyembelihan hewan kurban tidak berhenti di situ, ada pesan profetik pada setiap insan untuk menyembelih ‘ego’, mendekonstruksi ruhaninya menuju manusia sempurna (Insan Kamil).
Hakikat kurban adalah keberanian manusia untuk membunuh berhala dalam diri, membakar egoisme dan menanggalkan kemelakatan materil agar setiap muslim mampu keluar dari belenggu kehinaan menuju martabat kemuliaan manusia spiritual.
Oleh karna itu berkorban artinya manusia sedang melakukan proses transformasi diri menjadi manusia yang otentik, merdeka tidak diperbudak oleh kepentingan pribadi sesaat dan keserakahan duniawi belaka.
Kurban dan Pesan Kemanusiaan
Dari sisi kemanusiaan, ajaran kurban memberikan pesan kepada kita semua bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat hidupnya bagi sesama.
Asas kebermanfaatan pada ibadah kurban menunjukan betapa kuatnya dimensi sosial, relasi habluminannas menjadi konsekuensi logis ketika manusia membangun relasi habluminallah sebagai abduh.
Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum miskin dan kelompok rentan.
Orang yang berkurban diajarkan untuk menyisihkan sebagian hartanya demi kebahagiaan orang lain.
Di tengah ketimpangan ekonomi, krisis nilai, dan meningkatnya sikap individualisme, kurban menjadi simbol penting pesan universal Islam tentang kemanusiaan, memancarkan kesalehan sosial dengan mempraktikkan kebajikan kepada sesama dan lingkungan kehidupan, mengajarkan tentang makna sebuah perngorbanan.
Dengan semangat perngorbanan, Ibadah Kurban mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, menengok ke samping untuk memastikan tidak ada manusia yang lapar.
Ibadah kurban menjadi notifikasi serius bagi kita, kekuasaan atau jabatan publik menjadi amanah untuk mendistribusikan keadilan dan memastikan kemakmuran bukan untuk kepentingan diri dan kelompok.
Idharsyah T. Dasi
Idul Adha 1447 Hijriyah
Idul Adha
Hukum Berkurban
makna ikhlas berkurban
Meaningful
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
| Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha? |
|
|---|
| Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial |
|
|---|
| Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Idharsyah-T-Dasi.jpg)