Opini
Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial
Di media sosial, setiap komentar yang diberikan ibarat panggung improvisasi bagi setiap orang menyesuaikan maksud yang hendak dicapai.
Oleh: Krisogonus Kusman
Mahasiswa Filsafat semester VI pada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dewasa ini, media sosial telah mengubah fase peradaban secara fundamental. Apa yang dulunya merupakan ruang privat kini semuanya terekspos ke ranah publik tanpa batas.
Fenomena ini melahirkan dinamika baru dalam kajian ilmu komunikasi, khususnya terkait bagaimana pesan diproduksi, disebarluaskan, dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Dalam konteks inilah, teori-teori komunikasi mengenai tindak tutur, manajemen pesan terkoordinasi (Coordination of Messages), dan teori identifikasi menjadi semakin relevan untuk membedah fenomena kompleks ini.
Melalui kaca mata teoritis tersebut serta kritik Jean Baudrillard terhadap hiperrealitas, tulisan ini berupaya merefleksikan secara kritis praktik komunikasi manusia di era digital.
Baca juga: Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar
Pertama-tama, mari kita pahami esensi dari produksi pesan melalui Speech Act Theory atau teori tindak tutur yang digagas oleh J.L. Austin dan kemudian disempurnakan oleh John Searle.
Inti dari teori ini adalah pandangan bahwa bahasa bukan sekadar alat deskriptif, melainkan instrumen tindakan.
Setiap kali seorang pengguna media sosial mengunggah foto atau mengirim pesan, ia sedang melakukan tindakan sosial. Proses tersebut terdiri dari empat lapisan.
Lapisan pertama adalah locution, yakni lambang-lambang bunyi atau teks yang tersusun secara gramatikal. Pada medium digital, teks atau gambar merupakan representasi fisik dari ujaran tersebut.
Lapisan kedua adalah propositional act, yaitu isi atau makna harfiah dari pernyataan tersebut.
Misalnya, jika seseorang menulis "Saya sangat lelah bekerja hari ini," maka maknanya secara literal adalah kelelahan fisik akibat pekerjaan.
Lapisan ketiga, yang disebut sebagai lapisan paling krusial adalah illocutionary act. Ini menyangkut maksud sang komunikator, apakah ia mengeluh, mencari simpati, atau meminta nasihat.
Di sinilah letak tantangan besar pada media sosial. Hilangnya isyarat nonverbal seperti intonasi, mimik wajah, dan kontak mata yang menyebabkan kejelasan sering kali menjadi kabur.
Atas dasar itu, fitur-fitur tambahan seperti emotikon atau emoji hadir sebagai pelengkap fungsi ilokusioner.
Fitur ini tidak sekadar menjadi penghias, melainkan berfungsi sebagai penegas maksud pengirim agar pesannya tidak disalahtafsirkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Krisogonus-Kusman.jpg)