Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Dari Dilan ke Dapur

Film ini merupakan sebuah satir visual yang tajam mengenai dunia pendidikan tanah air saat ini. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Ia mempertanyakan, kapan terakhir kali kampus menjadi ruang berpikir bukan sekadar ruang produksi? 
  
Tak Selamanya Gelar Menjamin Arah 

Jika Dilan kembali menjadi mahasiswa hari ini, mungkin ia akan terheran-heran dengan kenyataan yang ada. Bagaimana tidak? Hingga 40 persen lulusan perguruan tinggi bekerja di bidang yang bertolak-belakang dengan jurusannya menurut laporan BPS (31/10/2025). 

Tidaklah mengherankan, jika ada Menteri atau pejabat yang ditempatkan tidak sesuai dengan keahliannya. Ini mengindikasikan adanya kegagalan sistemik. Ia bukan hanya sekadar angka di atas kertas. 

Becker (1993) dalam perspektif human capital theory-nya menyatakan bahwa pendidikan adalah investasi. Dengan menampilkan sebuah logika sederhana, ia katakan bahwa semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi produktivitasnya. 

Tetapi sebaliknya data menunjukkan bahwa hubungan ini tidak linear. Banyak lulusan tidak terserap bukan karena tidak kompeten, melainkan karena struktur ekonomilah yang tidak mampu menyiapkan ruang. 

Artinya di sini kita dihadapkan pada dua permasalahan. Pertama, adanya ketidaksesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan industri. Kedua, adanya ketidakseimbangan antara produksi lulusan dan kapasitas pasar kerja. 

Karena itu wacana untuk menutup prodi yang dinilai tidak relevan, tidak akan menyelesaikan permasalahan kedua. Itu ibaratnya mengurangi jumlah payung ketika hujan deras. Ia tidak mengubah cuaca, tetapi hanya mengubah siapa yang basah. 

Penutupan Prodi: Kebijakan Cepat, Solusi Dangkal

Kedengaran tegas ketika wacana penutupan prodi yang “tidak relevan”didengungkan oleh pemerintah. 

Seolah pemerintah menawarkan kesan kontrol: negara tampak bertindak. Namun, di balik ketegasan yang dipaksakan itu, ada ketimpangan serius. 

Pertama, indikator yang menjadi acuan terlalu sempit. Relevansi diukur berdasarkan serapan kerja jangka pendek. 

Padahal, dalam kenyataannya, pasar kerja berubah dengan cepat. Banyak bidang yang kelihatannya tidak relevan saat ini justru menjadi penting di masa mendatang. 

Kedua, pendekatan ini dinilai abai terhadap fungsi pendidikan sebagai public good (Marginson, 2016). Pendidikan pada dasarnya bukan hanya untuk menghasilkan pekerja, melainkan juga menghasilkan warga negara yang memiliki kemampuan untuk berpikir. 

Dilan mungkin akan dianggap “tidak efisien”, jika ia hidup dalam sistem ini. Dalam ukuran statistik, ia dinilai tidak produktif. 

Namun yang harus disadari bahwa karakter seperti Dilan inilah yang memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki nilai-nilai yang tidak bisa diukur: kreativitas, refleksi, dan keberanian berpikir di luar pola. 

Adalah sebuah ilusi kebijakan, jika menutup sebuah prodi tanpa pernah berpikir untuk memperbaiki sistem. Karena pada akhirnya, ia akan menciptakan kesan solusi tanpa pernah menyentuh akar masalah. 

Kampus atau Kantin Negara? 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved