Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Dari Dilan ke Dapur

Film ini merupakan sebuah satir visual yang tajam mengenai dunia pendidikan tanah air saat ini. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Coba bayangkan salah satu adegan dalam Dilan ITB 1997 di mana Dilan duduk di kantin, berdiskusi, menulis, dan bercanda. 

Di sini kantin bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang sosial. Dan coba bandingkan dengan wacana mengenai universitas harus menyediakan dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Yang terjadi adalah kantin dialihfungsikan: dari ruang interaksi menjadi unit produksi kebijakan. 

Tidaklah mengherankan jika kritik tajam dilayangkan. Bukan karena anti kebijakan atau program gizi tidak penting. Tetapi justru sebaliknya. Yang menjadi permasalahannya adalah desain kebijakan. Mengapa universitas dipaksakan menjadi operator logistik? 

Jika dianalisis berdasarkan kebijakan publik, ini merupakan contoh dari mission drift (pergeseran misi). Institusi yang seharusnya memfokuskan dirinya pada pendidikan dan riset dialihkan pada fungsi operasional. 

Ini memiliki dampak konkretnya di mana anggaran teralihkan dari riset ke infrastruktur non-akademik, beban administratif pun meningkat, dan akhirnya menggeser fokus institusi. 

Padahal Universitas seharusnya berkontribusi melalui riset gizi, inovasi pangan, dan edukasi. Dengan menjadikannya dapur, ini adalah bentuk simplifikasi fungsi yang berbahaya. 

Apabila tren ini berlanjut, kampus akan dikenal sebagai tempat pelaksanaan program dan tidak lagi menjadi tempat lahirnya ide-ide. Dilan tidak akan menulis lagi puisi di sana. Mungkin ia sibuk mengatur distribusi bahan makanan dengan motor andalannya. 

Dilan dan Ilusi yang Kita Pelihara 

Film Dilan ITB 1997 memilih narasi yang begitu hangat dan personal. Ia tidak menampilkan adanya tekanan biaya kuliah, persaingan kerja, atau kecemasan masa depan. Ini bukanlah kelemahan. Ini adalah strategi naratif yang ingin ditampilkan. 

Sayangnya, publik kerap mengonsumsinya sebagai realitas. Ini menimbulkan masalah. Sebagai ruang romantik, kita merayakan kampus. 

Padahal realitasnya semakin mekanistik. Bourdieu (1984) menamainya sebagai produksi symbolic capital. Kampus dipersepsikan sebagai ruang yang prestisius dan bermakna, meskipun dalam praktiknya semakin pragmatis. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved