Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Kampung Halaman- Antara Menemukan dan Menciptakan

Figur seorang ayah dalam novel ini adalah tokoh perekat keluarga dari generasi ke generasi. Figurnya melekat erat dengan identitas.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLYKARP ULIN AGAN
Polykarp Ulin Agan 

Walaupun identitas itu lahir dari bundle of perceptions, namun ia tetap terikat pada apa yang menjadi "rahim identitasnya". 

Bagi kebanyakan orang, rahim ini adalah tanah kelahiran yang senantiasa memanggilnya untuk pulang. 

Panggilan ini mendorong dan menggerakkannya untuk mengabadikan sebuah monumen di tanah kelahiran dengan membangun atau merenovasi rumah keluarga.

Fenomena ini tampak jelas pada rumah-rumah yang berdiri megah di desa, tetapi sering kali kosong. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal fisik, melainkan simbol keterhubungan. 

Ia menjadi penanda kehadiran sosial, meskipun penghuninya berada jauh di rantau. Dalam konteks ini, rumah menjelma menjadi simpul: sebuah titik temu antara ingatan, harapan, dan relasi yang tersebar.

Kerinduan akan rumah inilah yang menginspirasi para perantau untuk membentuk sebuah wadah di tanah rantau sebagai ruang negosiasi identitas. 

Wadah tersebut mempertemukan para migran yang merasakan kedekatan atas dasar difenisi identitas tertentu. 

Semakin dekat kategori definisi identitas, semakin mudah menciptakan sebuah ruang negosiasi identitas yang dapat memberikan pengayoman dalam banyak hal.

Dengan bertumbuhnya ruang negosiasi identitas sebagai simpul atau perekat, bertumbuh pula mobilitas yang mengandung potensi "kebaruan". Di tengah mobilitas tersebut, budaya tidak hilang. Ia justru bergerak. 

Bahasa daerah, ritual, dan praktik sosial dibawa serta ke ruang-ruang baru. Komunitas diaspora menjadi ruang reproduksi identitas, tempat di mana ingatan kolektif tetap hidup. 

Dengan demikian, rasa memiliki tidak lagi bertumpu pada satu tempat, melainkan pada jaringan relasi yang terus dipelihara.

Novel Vaterlos (Tanpa Ayah) mengajarkan bahwa baik dalam pengalaman kehilangan maupun dalam pengalaman migrasi, “Heimat” (kampung halaman) tidak lagi dapat dipahami sebagai sesuatu yang tetap. 

Ia adalah proses yang bergerak antara mengingat dan melupakan, antara menemukan dan menciptakan. 

Dalam dunia yang terus berubah dan sejarah yang tidak pernah sepenuhnya utuh, rasa memiliki lahir dari keberanian untuk merangkai kembali kepingan-kepingan itu menjadi sebuah cerita yang layak dihuni. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved