Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Kampung Halaman- Antara Menemukan dan Menciptakan

Figur seorang ayah dalam novel ini adalah tokoh perekat keluarga dari generasi ke generasi. Figurnya melekat erat dengan identitas.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLYKARP ULIN AGAN
Polykarp Ulin Agan 

Namun arsip pun tidak memberi kepastian; ia hanya menawarkan potongan yang menuntut tafsir. Di titik ini, pencarian asal-usul menjadi pertemuan antara rasionalitas dan emosi—antara fakta dan kerinduan.

Maka, pertanyaan pun bergeser: bukan lagi sekadar “dari mana aku berasal”, melainkan “di mana aku dapat merasa berada”. 

Rasa memiliki tidak lagi ditentukan oleh darah semata, tetapi oleh relasi, pengalaman, dan pilihan untuk memberi makna pada suatu tempat.

Migrasi, Remitansi, dan Identitas Terdistribusi

Jika dalam konteks Jerman pascaperang “Heimat” (kampung halaman) menjadi sesuatu yang retak dan harus dirakit ulang, maka dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), ia bergerak dan menyebar. 

Migrasi kerja telah lama menjadi pola struktural yang melampaui pilihan individu. 

NTT secara konsisten menjadi salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar ke Malaysia, Hong Kong, dan Timur Tengah. 

Remitansi yang mereka kirimkan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga: membiayai pendidikan, konsumsi, hingga pembangunan rumah di kampung halaman.

Namun di balik aliran uang itu, terjadi pergeseran makna yang lebih dalam. Kampung halaman tidak lagi terikat pada satu lokasi geografis. 

Ia menjadi pengalaman yang terdistribusi. Seseorang bisa lahir di Flores, membangun kehidupan ekonomi di Kalimantan, dan menjalin relasi sosial di luar negeri. 

Identitas tidak lagi tunggal, melainkan tersebar dalam jaringan pengalaman lintas ruang.

Identitas semacam ini oleh filsuf David Hume disebut sebagai bundle of perceptions. Yang dimaksud adalah identitas yang terbentuk dari himpunan pengalaman, ingatan, dan kesan yang senantiasa berubah seiring berjalannya waktu. 

Ia berubah karena terus bertumbuh dan berkembang dalam pergulatan dialog dengan sesama, yang masing-masing hadir dengan konteks sosial yang beragam. 

Dengan demikian, pembentukan identitas merupakan hasil tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai nilai dan cara hidup yang diajukan oleh komunitas sosial.

Tidak berlebihan apabila Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia adalah apa yang ia perbuat. 

Identitas bukanlah sesuatu yang diwariskan secara tetap, melainkan sebuah proyek yang senantiasa dibentuk melalui pilihan dan tindakan.

Diaspora dan Negosiasi Identitas

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved