Opini
Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"?
Sifatnya yang provokatif dan berani membuatnya tidak sekadar menjadi karya sinematik, melainkan sebuah peristiwa sosial.
Sebuah Catatan Kritik Sosial Atas Film Pesta Babi
Oleh : Bernabas Haki
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Film dokumenter Pesta Babi adalah sebuah film yang penuh dengan kritikan terhadap kebijakan pemerintah yang sering kali bersifat oligarki.
Sejak awal perilisannya, film ini langsung memicu gelombang kontroversi yang membelah opini publik dan memantik perdebatan hangat di berbagai lini masa.
Sifatnya yang provokatif dan berani membuatnya tidak sekadar menjadi karya sinematik, melainkan sebuah peristiwa sosial.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa film dokumenter ini memicu kontroversial.
Pertama adanya tabu budaya dan narasi sensitif. Mengangkat simbol "babi" yang dalam lanskap sosiokultural dan religius di Indonesia memiliki muatan sensitivitas yang sangat tinggi dan film ini secara berani menabrak tembok-tembok tabu.
Baca juga: Cara Nonton Film Pesta Babi: Gratis, Ada Minimal Jumlah Penonton
Visualisasi dan narasi yang dihadirkan menantang kenyamanan beragama dan berbudaya sebagian masyarakat.
Alasan yang kedua adalah sentilan politik structural. Film ini tidak sekadar bicara tentang hewan atau tradisi, melainkan menggunakan metafora tersebut untuk menyentil keserakahan sistemik.
Ini tentu saja membuat "gerah" pihak-pihak mapan yang merasa tersindir oleh cerminan distopia yang ditampilkan.
Secara visual, film ini mendeskripsikan dengan sangat gamblang bagaimana sekelompok elite bertingkah laku layaknya kawanan peliharaan yang tak pernah kenyang.
Mereka digambarkan dengan guratan wajah yang penuh keringat ketamakan, mata yang liar mencari keuntungan, dan tangan-tangan yang terus meraup apa saja tanpa peduli pada sekitar. Inilah gambaran kerakusan yang membuat seseorang kehilangan kemanusiaannya.
Adapun kritik sosial yang dilemparkan Pesta Babi sangat menusuk jantung masyarakat modern. Film ini menjadi cermin retak yang memantulkan potret sosial kita yang memiliki sifat individualisme akut.
Masyarakat yang digambarkan dalam film adalah potret kita saat ini, dimana keberhasilan diukur dari seberapa banyak kita bisa mengonsumsi dan menimbun, terlepas dari fakta bahwa ada tetangga yang sedang kelaparan.
Bukan hanya itu, nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan telah digadaikan demi tiket masuk ke dalam "pesta" lingkaran kekuasaan dan kekayaan.
Film ini juga memberikan kritik atas kebijakan pemerintah ketika sebuah negara menjadi "sutradara" pesta. Ada keserakahan sistemik yang digambarkan dalam Pesta Babi tidak tumbuh di ruang hampa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bernabas-Haki.jpg)