Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: Manajer atau Pemimpin Gerombolan?

Kepemimpinan yang sehat selalu menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan kesempatan untuk berkembang.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKISEDEK NEOLAKA
Melkisedek Neolaka 

Refleksi Kritis atas Budaya Kepemimpinan 

Oleh: Melkisedek Neolaka
Staf Pengajar FISIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM -  Bayangkan seorang karyawan yang pernah melakukan satu kesalahan, bukan kesalahan fatal dan bukan pula pelanggaran besar, namun sejak saat itu eksistensinya di kantor berubah total. 

Ia tidak lagi diberdayakan sesuai tanggung jawabnya.  Ia dipinggirkan, dikucilkan, dan diperlakukan seolah-olah tidak pernah ada. 

Sanksi disiplin yang seharusnya bersifat korektif justru berubah menjadi hukuman tanpa batas waktu. 

Pertanyaan yang kemudian muncul sangat sederhana: apakah ini masih dapat disebut sebagai kepemimpinan yang transformasional?

Baca juga: Opini: Ekonomi NTT Mau Kemana?

Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan lagi sesuatu yang langka. Di banyak organisasi, pola tersebut perlahan menjadi budaya yang dianggap normal. 

Para pemimpin yang semestinya menjadi motor penggerak sumber daya manusia justru tampil layaknya pemimpin gerombolan yang memimpin melalui dominasi, menciptakan rasa takut, dan mempertahankan kuasa dengan perlakuan yang diskriminatif. 

Ironinya, praktik semacam itu sering kali dibungkus dengan bahasa profesionalisme dan kedisiplinan, padahal yang sedang tumbuh sebenarnya adalah budaya intimidasi yang perlahan merusak organisasi dari dalam.

Peter Drucker, salah satu pemikir manajemen terbesar abad ke-20, pernah menegaskan bahwa tugas seorang manajer adalah membuat orang-orang biasa mampu melakukan hal-hal luar biasa. 

Gagasan ini menegaskan bahwa inti kepemimpinan bukanlah kekuasaan, melainkan pemberdayaan. 

Seorang manajer sejati hadir untuk melihat potensi dalam setiap anggota timnya, termasuk mereka yang pernah melakukan kesalahan. 

Ia membangun sistem, menciptakan ruang tumbuh, dan membantu setiap individu memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi.

Sebaliknya, pemimpin gerombolan memimpin dengan pendekatan yang berbeda. Ia tidak membangun manusia, tetapi mengendalikan mereka. Perbedaan perlakuan dijadikan alat untuk mempertahankan dominasi. 

Karyawan yang dianggap tidak sejalan dipinggirkan, diisolasi, atau dibiarkan stagnan. 

Dalam lingkungan seperti ini, loyalitas kepada pemimpin jauh lebih dihargai dibanding kompetensi dan integritas kerja. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved