Opini
Opini: Kampung Halaman- Antara Menemukan dan Menciptakan
Figur seorang ayah dalam novel ini adalah tokoh perekat keluarga dari generasi ke generasi. Figurnya melekat erat dengan identitas.
Oleh: Dr. Polykarp Ulin Agan
Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für katholische Theologie) Keuskupan Agung Koln, Jerman.
POS-KUPANG.COM - Pencarian akan kampung halaman — tentang dari mana kita berasal dan di mana kita merasa berada— selalu bergerak di antara dua kutub: sesuatu yang diwariskan dan sesuatu yang harus dibangun.
Dalam novel Vaterlos (Tanpa Ayah, 2026) karya Thomas Medicus, pertanyaan ini tidak hadir sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai luka yang hidup.
Ia berakar pada ketiadaan figur ayah dan retaknya garis sejarah keluarga. Di sana, “Heimat” (kampung halaman) tidak pernah tampil sebagai tempat yang mapan, melainkan sebagai sesuatu yang terus-menerus dirakit dari serpihan ingatan.
Kehilangan figur ayah bukan hanya menggambarkan ketiadaan figur seorang yang menopang keluarga, melainkan terutama retak dan putusnya kesinambungan generasi.
Baca juga: Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"?
Figur seorang ayah dalam novel ini adalah tokoh perekat keluarga dari generasi ke generasi. Figurnya melekat erat dengan identitas.
Ketika figur sang ayah menghilang di balik awan, pada saat itu identitas pun menggantung rapuh. Krisis dapat muncul dalam pertanyaan yang sederhana: dari mana saya berasal?
Dalam situasi demikian, tanah air atau kampung halaman tidak lagi bersifat otomatis.
Ia bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja, melainkan sesuatu yang harus dicari, bahkan diciptakan kembali.
Masa lalu hadir dalam bentuk fragmen: dokumen yang tercecer, cerita yang terputus, dan ingatan yang saling bertabrakan.
Kebenaran pun tidak pernah utuh; ia harus disusun perlahan, seperti mozaik yang terbentuk dari kepingan yang tidak selalu serasi.
Latar sejarah Jerman pascaperang semakin memperdalam pencarian ini. Trauma kolektif, perpindahan, dan kehancuran menjadikan identitas sebagai sesuatu yang tidak stabil.
Keluarga, yang seharusnya menjadi ruang paling intim untuk memahami asal-usul, justru tampil sebagai ruang yang terfragmentasi.
Identitas pun bukan lagi sesuatu yang pasti, melainkan hasil negosiasi yang terus berlangsung.
Menariknya, pencarian tersebut tidak dimulai dari nostalgia, melainkan dari upaya ilmiah: menelusuri arsip, membaca dokumen, dan menyusun jejak sejarah keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Polykarp-Ulin-Agan.jpg)