Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Stunting Epistemik di Nusa Tenggara Timur

Di sinilah persoalan stunting tidak lagi hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga memasuki wilayah pengetahuan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Yohanes Goa 

Antara Mitos, Kebohongan dan Krisis Pengetahuan

Oleh: Yohanes Goa
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Stunting selama ini dipahami terutama sebagai persoalan kesehatan dan gizi. 

Perhatian publik umumnya tertuju pada tubuh anak yang gagal bertumbuh secara optimal akibat kekurangan nutrisi jangka panjang. 

Namun, di balik persoalan biologis itu terdapat masalah lain yang jarang dibicarakan: stunting dalam ranah pengetahuan. 

Masyarakat dapat mengalami “stunting epistemik”, yaitu keadaan ketika kemampuan membangun pengetahuan yang sehat terhambat oleh keyakinan yang keliru, informasi yang menyesatkan, dan cara berpikir yang tidak kritis. 

Baca juga: Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"? 

Dalam konteks ini, tubuh bukan satu-satunya yang dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan; cara masyarakat memahami kebenaran pun dapat mengalami kondisi serupa.

Persoalan ini relevan dengan situasi Nusa Tenggara Timur ( NTT), wilayah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan angka stunting yang tinggi. 

Berdasarkan data nasional beberapa tahun terakhir, prevalensi stunting di NTT masih berada di atas rata-rata nasional meskipun menunjukkan tren penurunan. 

Di banyak daerah, masih ditemukan kasus anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat faktor gizi, sanitasi, pendidikan, dan akses kesehatan yang terbatas. 

Namun di balik angka statistik itu terdapat realitas konkret yang sering luput diperhatikan: masih berkembang keyakinan bahwa tubuh anak yang pendek semata-mata disebabkan keturunan, adanya pantangan makanan tertentu bagi ibu hamil, atau anggapan bahwa kondisi anak akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan. 

Sebagian masyarakat bahkan lebih mempercayai informasi turun-temurun daripada penjelasan medis. 

Di sinilah persoalan stunting tidak lagi hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga memasuki wilayah pengetahuan.

Epistemologi membantu membaca persoalan ini secara lebih mendalam. Dalam pembahasan epistemologi, kebohongan bukan sekadar mengatakan sesuatu yang salah. 

Seseorang dikatakan berbohong ketika ia menyampaikan sesuatu yang berbeda dari apa yang ia yakini benar, dengan maksud agar orang lain mempercayainya. 

Struktur tradisional kebohongan terdiri dari tiga unsur: seseorang menyatakan suatu hal, ia mengetahui atau meyakini hal itu salah, dan ia bermaksud menipu orang lain. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved