Opini
Opini: Stunting Epistemik di Nusa Tenggara Timur
Di sinilah persoalan stunting tidak lagi hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga memasuki wilayah pengetahuan.
Fokusnya bukan hanya isi pernyataan, melainkan juga dampaknya terhadap perubahan keyakinan pihak yang mendengarkan.
Baca juga: SGGI 2024: 14.785 Keluarga Berisiko Stunting, Pemkab Ende Perkuat Gerakan Orang Tua Asuh
Jika pendekatan ini digunakan untuk membaca realitas stunting di NTT, persoalannya menjadi lebih kompleks. Tidak semua informasi yang salah dapat langsung disebut kebohongan.
Banyak orang tua atau anggota masyarakat mungkin menyampaikan pandangan tertentu tentang kesehatan anak karena mereka sungguh percaya bahwa hal itu benar.
Misalnya, keyakinan bahwa anak pendek adalah faktor keturunan atau larangan mengonsumsi jenis makanan tertentu selama kehamilan.
Dalam perspektif epistemologi St. Agustinus, situasi demikian lebih tepat disebut sebagai kekeliruan (falsity), bukan kebohongan. Mereka menyampaikan sesuatu yang keliru tetapi tidak bermaksud menipu.
Namun masalah muncul ketika informasi yang sebenarnya telah terbukti salah terus dipertahankan dan disebarkan. Di era digital, arus informasi bergerak sangat cepat.
Berbagai konten kesehatan beredar melalui media sosial tanpa proses verifikasi. Ada orang yang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Tetapi ada juga pihak-pihak yang sengaja menyebarkan informasi menyesatkan demi kepentingan tertentu: popularitas, keuntungan ekonomi, atau pengaruh sosial. Dalam konteks ini, struktur kebohongan epistemik mulai tampak.
Seseorang mengetahui atau patut mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar, tetapi tetap menyampaikannya sehingga orang lain mempercayainya.
Menariknya, epistemologi kontemporer memperluas pemahaman tentang kebohongan.
Sejumlah pemikir seperti Sorensen, Saul, dan Stokke menolak anggapan bahwa niat menipu harus selalu menjadi syarat kebohongan.
Menurut pandangan non-deceptive atau minimalis, seseorang dapat disebut berbohong jika ia mengatakan sesuatu yang ia ketahui salah, sekalipun tidak berniat menipu.
Dalam konteks stunting di NTT, pendekatan ini penting. Sering kali informasi salah disebarkan bukan karena niat jahat, melainkan karena kebiasaan, ketidaktelitian, atau sekadar mengulang apa yang pernah didengar.
Namun dampaknya tetap sama: masyarakat membangun keyakinan berdasarkan informasi yang keliru.
Di sinilah letak bahaya stunting epistemik. Masalah utamanya bukan semata-mata kurangnya informasi, melainkan kualitas hubungan masyarakat dengan pengetahuan itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Goa-Mahasiswa-Fakultas-Filsafat-Unwira.jpg)