Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Manajer atau Pemimpin Gerombolan?

Kepemimpinan yang sehat selalu menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan kesempatan untuk berkembang.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKISEDEK NEOLAKA
Melkisedek Neolaka 

Ironisnya, ketika suatu saat organisasi membutuhkan kembali kompetensi tersebut, kualitasnya sudah melemah, bukan karena individu itu malas atau tidak mampu, melainkan karena pemimpinnya sendiri yang menumpulkan kemampuan tersebut. 

Inilah paradoks terbesar dari kepemimpinan yang berbasis kontrol dan ketakutan. 

Pemimpin merasa sedang menunjukkan kekuasaan, padahal sesungguhnya ia sedang merusak produktivitas organisasinya sendiri.

Masalah menjadi semakin serius ketika perlakuan terhadap karyawan tidak lagi didasarkan pada kinerja, melainkan pada kedekatan pribadi atau rasa suka dan tidak suka. 

Amy Edmondson dari Harvard Business School menyebut kondisi seperti ini sebagai hilangnya psychological safety, yaitu rasa aman secara psikologis yang menjadi fondasi utama bagi tim berkinerja tinggi. 

Dalam organisasi yang kehilangan rasa aman psikologis, orang-orang belajar satu hal dengan sangat cepat: jangan menonjol, jangan berbeda, dan jangan terlalu berani.

Akibatnya, yang bertahan bukanlah mereka yang paling kompeten, tetapi mereka yang paling pandai membaca arah kekuasaan. 

Organisasi akhirnya dipenuhi oleh budaya yes-man, di mana orang lebih memilih menyenangkan atasan daripada menyampaikan kebenaran. 

Kreativitas mati, inovasi berhenti, dan keberanian berpikir perlahan menghilang. Lingkungan kerja berubah menjadi ruang yang penuh kecemasan dan kepura-puraan.

Robert Greenleaf, pencetus konsep servant leadership, menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang hadir untuk melayani pertumbuhan timnya, bukan sebaliknya. 

Pemimpin yang membesarkan dirinya dengan mengecilkan orang lain sesungguhnya bukanlah pemimpin, melainkan penghambat kemajuan yang memakai topeng jabatan. 

Kepemimpinan yang sehat selalu menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan kesempatan untuk berkembang.

“Tim terbaik di dunia bukan tim yang penuh bintang, melainkan tim di mana setiap anggotanya merasa aman untuk berbicara, berbuat salah, dan belajar,” demikian ungkapan Amy Edmondson yang sangat relevan dengan realitas banyak organisasi hari ini. 

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi tanpa kesalahan, tetapi organisasi yang mampu belajar dan bertumbuh dari kesalahan tanpa menghancurkan manusia di dalamnya.

Pada akhirnya, budaya kepemimpinan yang dipenuhi diskriminasi dan rasa takut selalu membawa harga mahal bagi organisasi. Karyawan terbaik akan memilih pergi karena merasa tidak dihargai. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved