Opini
Opini: Manajer atau Pemimpin Gerombolan?
Kepemimpinan yang sehat selalu menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan kesempatan untuk berkembang.
Organisasi akhirnya tidak lagi menjadi ruang profesional yang sehat, melainkan arena kekuasaan yang dipenuhi rasa curiga dan ketakutan.
“Pemimpin sejati tidak menciptakan pengikut, ia menciptakan lebih banyak pemimpin,” demikian kata Tom Peters.
Kutipan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang sehat selalu melahirkan pertumbuhan bagi orang lain.
Pemimpin yang besar tidak takut melihat bawahannya berkembang. Ia justru merasa berhasil ketika orang-orang yang dipimpinnya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih kompeten, dan lebih percaya diri.
Dalam prinsip manajemen sumber daya manusia yang sehat, sanksi disiplin seharusnya bersifat korektif, bukan penghukuman permanen.
Setelah seseorang menjalani proses disiplin sesuai aturan, ia semestinya diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kembali kepercayaan.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Kesalahan yang telah diproses secara formal tetap dijadikan stigma yang terus menghantui seseorang.
Tugas dicabut, peran dihilangkan, dan individu yang bersangkutan dibiarkan berada dalam situasi organisasi yang membekukan.
Kondisi seperti ini bukan lagi sekadar bentuk disiplin organisasi, melainkan sudah menyerupai penganiayaan sistemik yang terselubung di balik istilah kebijakan.
Lebih berbahaya lagi, pola tersebut menciptakan pesan yang menakutkan bagi seluruh anggota organisasi: bahwa satu kesalahan dapat menjadi vonis seumur hidup bagi karier seseorang.
Ketika para karyawan menyaksikan hal semacam itu, yang tumbuh bukan semangat untuk berinovasi, melainkan rasa takut untuk mencoba.
Ada satu aspek lain yang sering luput dari perhatian dalam diskusi mengenai kepemimpinan, yakni ketika seorang karyawan tidak lagi diberi pekerjaan sesuai bidang dan kompetensinya.
Yang dirugikan sebenarnya bukan hanya individu tersebut, tetapi juga organisasi itu sendiri.
Dalam dunia manajemen, kondisi ini dikenal sebagai deskilling, yaitu kemunduran kompetensi karena kemampuan yang dimiliki tidak lagi digunakan.
Seorang profesional yang tidak diberi ruang untuk bekerja akan kehilangan ketajaman keahliannya secara perlahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melkisedek-Neolaka-03.jpg)