Breaking News
Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Ketika Air Kehilangan Kesuciannya

Korupsi membuat rakyat curiga kepada pemimpin. Korupsi membuat pelayanan berubah menjadi sandiwara administratif. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Maka ketika lembaga air minum terseret dugaan korupsi, masyarakat tidak hanya bertanya tentang laporan keuangan. 

Masyarakat bertanya lebih getir: apakah bahkan sesuatu yang paling dibutuhkan untuk hidup pun kini dapat diperdagangkan oleh kerakusan manusia?

Mungkin hanya di negeri yang terlalu lama akrab dengan kekeringan, air dapat kehilangan kesuciannya di meja kekuasaan.

Menanti dengan Sehati di Tengah Dunia yang Haus

Hari ini seluruh GMIT merefleksikan tema “Persekutuan yang Memulihkan: Menanti dengan Sehati” berdasarkan Kisah Para Rasul 1:12 sampai 14. 

Teks itu sering dibaca sebagai kisah para murid yang berkumpul dan berdoa setelah Yesus terangkat ke surga. 

Tetapi bila dibaca lebih jujur, teks itu bukan lahir dari suasana yang aman. Para murid sedang berada dalam ketidakpastian. 

Mereka baru saja mengalami kehilangan. Mereka hidup di bawah bayang bayang kekuasaan Romawi. Mereka juga membawa luka pengkhianatan setelah Yudas jatuh.

Dengan kata lain, persekutuan mula mula lahir di tengah krisis kepercayaan. Di sinilah teks itu menjadi sangat relevan bagi pembacaan publik hari ini. 

Sebab korupsi selalu menghancurkan persekutuan. Korupsi membuat orang tidak lagi percaya kepada institusi. 

Korupsi membuat rakyat curiga kepada pemimpin. Korupsi membuat pelayanan berubah menjadi sandiwara administratif. 

Korupsi membuat kata “bersama” kehilangan makna karena sebagian orang mengambil lebih banyak dari yang seharusnya dijaga untuk semua.

Maka ketika Kisah Para Rasul menyebut para murid bertekun dengan sehati dalam doa, “sehati” tidak boleh dipahami sebagai ajakan manis supaya orang tampak rukun. 

“Sehati” adalah tindakan spiritual melawan kehancuran sosial. Para murid tidak menyelamatkan diri masing masing. 

Mereka tidak membangun kelompok saling curiga. Mereka memilih tinggal bersama, menanti bersama dan memulihkan kepercayaan yang telah retak.

Di tengah dugaan korupsi air, gereja patut bertanya dengan rendah hati: apakah persekutuan kita masih sanggup memulihkan kehidupan bersama, ataukah kita hanya menjadi komunitas yang rajin beribadah tetapi gagap membaca jeritan publik?

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved