Opini
Opini: Ketika Air Kehilangan Kesuciannya
Korupsi membuat rakyat curiga kepada pemimpin. Korupsi membuat pelayanan berubah menjadi sandiwara administratif.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya siapa yang bersalah menurut hukum. Pertanyaan yang jauh lebih mengganggu ialah: bagaimana mungkin air, sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan, dapat terseret ke dalam bayang bayang tata kelola yang kotor?
Pipa yang Membocorkan Nurani
Ironinya, masyarakat yang paling memahami nilai air sering kali justru adalah mereka yang paling jauh dari pusat kekuasaan.
Mereka yang berjalan membawa jerigen berkilo kilometer lebih mengerti arti setetes air dibanding mereka yang membahas air di ruang rapat berpendingin udara.
Mereka yang menunggu tangki datang di bawah panas lebih tahu arti pelayanan publik dibandingkan orang yang menjadikan jabatan sebagai pintu masuk menuju keuntungan.
Di sinilah dugaan korupsi air menjadi sangat problematis secara moral, sosial dan filosofis. Air bukan barang mewah. Air bukan fasilitas tambahan.
Air adalah syarat dasar keberadaban. Ketika lembaga yang mengurus air terseret dugaan penyimpangan, yang retak bukan hanya manajemen. Yang retak adalah kepercayaan rakyat kepada negara.
OECD menegaskan bahwa tata kelola air yang baik harus efektif, efisien dan inklusif karena air berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan hidup bersama (OECD, 2024).
Sementara itu, Water Integrity Network menunjukkan bahwa korupsi sektor air berdampak langsung pada akses pelayanan dasar, ketimpangan sosial dan hilangnya kepercayaan publik (Water Integrity Network, 2021).
Dengan kata lain, korupsi air bukan sekadar pelanggaran prosedur. Ia adalah perusakan sistem kehidupan.
Barangkali yang bocor bukan hanya pipa. Yang bocor adalah rasa malu sosial kita.
Kita mulai hidup di zaman ketika pelayanan publik perlahan kehilangan kesuciannya. Jabatan dipandang sebagai peluang rente. Kuasa dianggap sebagai izin mengambil lebih dahulu.
Rakyat diminta sabar, sementara sistem terus menunda keadilan. Bahkan air, yang seharusnya mengalir kepada semua, dapat berubah menjadi ruang transaksi di tangan manusia yang nuraninya mengering.
Padahal di NTT, air menyimpan cerita yang panjang. Ada ibu yang menakar satu ember untuk memasak, mencuci dan memandikan anak.
Ada keluarga yang menunda mandi bukan karena malas, tetapi karena air harus disimpan untuk minum.
Ada anak sekolah yang datang terlambat karena pagi harinya lebih dulu membantu mengambil air. Ada kampung yang menunggu hujan seperti menunggu kabar baik dari langit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-07.jpg)